Berenang di Kali

Novel Denny Prabowo & Dhinny El-Fazilah
Diterbitkan oleh Mitra Bocah Muslim, 2006


Matahari terasa sangat tidak bersahabat. Panas! Amien, Adji dan Ody melangkahkan kakinya dengan gontai menuju rumah, sepulang dari sekolah. Sepertinya hari ini waktu begitu lamban berputar. Ketiganya berjalan diam tanpa mengeluarkan suara. Sampai...

“Pret!” disusul dengan bau telur busuk yang meruap ke udara.

Amien dan Ody langsung membekap hidungnya. Adji juga gak mau kalah, dia ikut-ikutan menutup hidungnya. Lho... jadi siapa yang ngentut dong?

“Siapa nih yang buang gas sembarangan?!” tukas Adji dengan suara lantang.

Amien dan Ody malah berpandangan, heran.

“Bukannya kamu yang ngentut, Dji?” tuding Ody.

“Enak saja!” Adji sewot, “jangan nuduh sembarangan dong!”

“Kalau lagi puasa gak boleh bo’ong lho,” ujar Amien.

“Jadi kamu juga nuduh aku, Mien?” Adji nggak senang.

“Siapa yang nuduh? Aku kan cuma bilang...”

“Sama saja! Pokoknya, kalau kalian nuduh harus ada buktinya!”

“Gimana cara ngebuktiinnya?” Ody bingung.

Adji langsung nungging. “Cimum saja nih, kalau gak percaya!”

“Hah? Ogah, ah!” tukas Amien.

Tapi Ody merasa penasaran. Dia yakin betul kalau tadi Adji yang buang gas sembarangan. Tapi kalau harus nyium... Gak ada cara lain! Ody memang harus berkorban. Dia harus bisa membuktikan, kalau gas beracun itu memang keluar dari bokongnya si Adji! Tapi begitu hidung Ody mendekat, tiba-tiba...

“Pruuueeetttt... dut, dut, dut... pret!”

“Huahahaha...!” Adji langsung berlari menjauhi Ody.

Ody yang gak sempat menutup hidungnya sempoyongan berlari mengejar Adji, “Adji gilaaa!!!”

Tapi keceriaan itu nggak berlangsung lama. Ketiganya kembali kehilangan selera karena udara yang begitu panas. Mereka kembali melangkah gontai, dengan muka lesu. Wajah mereka kelihatan sangat keletihan.

“Duh... rasanya aku sudah nggak kuat, nih...” keluh Ody.

“Sama,” sambung Adji, “panas banget, sih!”

“Sebenarnya aku juga ngerasa lelah banget,” kata Amien, “tapi kalau mau buka sayang .”

“Yah, betul juga sih. Sayang. Apalagi aku puasanya sudah batal dua kali,” sambung Adji.

“Eh, tar kita ke masjid, yuk. Di sana adem. Kita tidur-tiduran saja sampai bedug magrib,” usul Amien.

“Yah, bosen , ah! gak seru, Mien,” kata Adji, “Kalau cuma ngedem di masjid gak bikin jadi seger.”

“Gimana kalau kita berenang di kali?” usul Ody tiba-tiba.

“Boleh juga, tuh!” Adji setuju, “kita ke studio alam saja. Sambil berenang bisa liat orang-orang yang mancing di sana.”

“Tapi kita kan lagi puasa...” Amien gak setuju.

“Emangnya kalau lagi puasa gak boleh berenang ya? Emeng berenang bisa batalin puasa?” tanya Ody.

“Iya, bisa batalin puasa,” jawab Amien, “tapi kalau airnya keminum.”

“Berarti, kalau gak keminum boleh?” kali ini Adji yang bertanya.

“Tetep saja, nggak. Soalnya makruh!”

“Makruh apaan sih, Mien?” tanya Ody, bingung. Kalau soal komputer mah dia jago. Tapi kalau soal agama Amien jagonya!

“Makruh itu, kalau dikerjain gak dapet dosa, tapi kalau nggak dikerjain kita dapat pahala!”

“Kalau gitu kita bisa berenang!” seru Adji dan Ody membuat Amien kaget.

“Lho, kok gitu?” Amien jadi heran.

“Tadi kamu bilang, kalau kita kerjain kita gak dosa, kan?” tegas Adji.

“Iya,” jawab Amien, “tapi kita jadi gak dapat pahala.”

“Yah... sekali-kali gak dapet pahala gak pa-pa dah!” jawab Adji asal.

“Terserah kalian deh,” akhirnya Amien nyerah. “Tapi aku gak ikutan berenang.”

“Horeeeeee! Kita berenang!” Adji dan Ody jejingkrakan kesenengan.

Selepas Asar, setelah minta ijin sama orang tua, dengan bersepedah, Amien, Adji dan Ody pergi ke Studio Alam, yang letaknya lumayan jauh dari rumah mereka. Mereka sampai kepayahan. Hampir saja si Ody buka puasa di jalan saking kelelahan. Untungnya Amien sama Adji berhasil meyakinkan Ody untuk tidak melaksanakan niatnya itu.

Setelah setengah jam lebih bersepedah, akhirnya mereka sampai juga di tujuan, studio alam, yang biasa dipake lokasi shooting film-film tipi maupun bioskop.

“Film Jelangkung kan sutingnya di sini,” jelas Adji.

“Di sebelah mananya?” Ody yang memang belom tau penasaran.

“Di sana tuh,” tunjuk Adji ke arah yang banyak pohon-pohon lebatnya. “Ke sana, yuk!” ajak Adji.

“Ogah, ah... aku takut!” ujar Ody.

“Huuuu... masa siang-siang bolong begini takut?!” Amien sama Adji ketawa-tawa.

Di tepian danau yang lumayan luas itu, banyak orang-orang yang mancing ikan, sambil nunggu bedug magrib. Lumayan kan, kalau dapat, ikannya bisa dibuat buka puasa.

“Eh, kita nonton orang mancing saja, yuk?” ajak Amien.

“Yah, kita ke sini kan mau berenang.” Adji sama Ody gak setuju. Kedua anak itu langsung lari ke kali yang letaknya gak jauh dari danau. Membuka baju mereka, sebelum nyemplung ke kali.

Byurrr...!

Tapi begitu kepala mereka nongol ke permukaan, tiba-tiba Amien yang hanya duduk-duduk di tepian kali melihat sesuatu mengambang.

“Lho, bukannya itu...”

“Dy, Dy... itu kan celana kamu!” seru Adji.

Ternyata tanpa disadari oleh Ody, waktu si Ody nyemplung barusan, celananya yang agak-agak kendor melorot sendiri, dan hanyut terbawa arus. Adji sama Ody berusaha mengejar. Tapi karena celana itu hanyut terus sampai ke bagian danau yang cukup dalam, mereka gak berani lagi ngejar. Dari tepian kali, Amien juga sudah berusaha mengait celana itu pakai sebatang kayu, tapi juga gak berhasil. Ody hanya bisa memandangi lesu celananya yang semakin ke tengah danau.

Waktu beranjak sore. Sebentar lagi azan magrib berkumandang. Ody masih kebingungan. Dia bingung mau pulang pakai celana apa.

“Aku kan sudah bilang, gak usah berenang,” nasihat Amien, “sudah gak dapat pahala, celana malah nganyut.”

“Aduh... jangan nyalahin terus dong!” Ody kesal.

“Tau nih, pak ustadz,” dukung Adji, “teman kesusahan malah diceramahin.”

“Terus gimana, dong?” tanya Ody, minta pendapat pada kedua temannya.

“Gini saja,” kata Amien, “Baju kamu dijadiin celana saja! Makenya kebalik!”

“Usul yang bagus tuh!” dukung Adji.

Akhirnya Ody mengambil pakaiannya, memasukkan kedua kakinya ke lengan baju. Sepanjang perjalanan pulang Ody harus rela jadi bahan ejekan orang-orang yang melihatnya. Mengira dia sudah kehilangan akal, alias gila.

“Huaaaaaa... tobaaatttt!!!”

Amien sama Adji cuma ketawa-ketawa.[]


Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini