5 Tips Menembus Media


Setiap kali saya berkesempatan menjadi pembicara dalam suatu talkshow, workshop, pelatihan, traianing, atau apa pun namanya, pasti ada pertanyaan, "Bagaimana cara menembus media?"

Dalam tulisan ini, saya mencoba merangkum beberapa kiat yang bisa kamu coba untuk menembus media. Kiat-kiat ini pernah saya dengar dari penulis lain atau pun pernah saya amalkan sendiri.

1. Membaca karya-karya yang dimuat di media


Ini kiat yang paling sering saya dengar. Dengan membaca karya-karya yang dimuat di media, setidaknya kita akan mendapat gambaran kecenderungan suatu media.

Kelemahan cara ini, besar kemungkinan kamu hanya akan menjadi epigon dari penulis-penulis sebelumnya. Kamu hanya akan mengulang tema atau gaya penulis-penulis yang sudah lebih dulu dimuat di media itu. Saya sendiri tidak pernah mengamalkan kiat ini karena alasan tersebut.

2. Mencari tahu selera redakturnya


Satu-satunya alasan mengapa karya kita dimuat di media adalah karya itu sesuai dengan selera redakturnya. Jadi, tidak heran kalau suatu karya ditolak media satu tapi diterima media lainnya. Saya sering mengalami ini. Cerpen Membunuh Ajidarma misalnya. Cerpen itu ditolak kompas, tapi diterima Jawa Pos.

Jadi, kiat yang kedua ini, kamu harus cari tahu, siapa redaktur media itu. Setelah itu, cari tahu selera bacanya: apa karya-karya favoritnya, siapa penulis-penulis kegemarannya, apa bidang-bidang yang diminatinya.

Kelemahan cara ini, kamu berpotensi menulis hanya untuk menyenangkan redaktur saja.

3. Mendekati redakturnya


Kalau cara kedua tidak mempan, cari ini patut kamu coba. Kamu bisa menjalin komunikasi dengan redakturnya. Sekarang sudah zaman media sosial. Setiap redaktur itu pasti punya akun medsos. Coba berteman dengan mereka. Setidaknya, kalau mereka butuh naskah, mereka akan menghubungi orang-orang yang mereka kenal.

Waktu Uda Damhuri Muhammad ditunjuk sebagai redaktur tamu untuk bidang sastra di Media Indonesia, dia menghubungi saya, menanyakan apakah saya memiliki naskah untuk Media Indonesia. Tentu saja Uda Damhuri mau menghubungi saya karena ia kami sudah saling kenal sebelumnya. Alhamdulillah cerpen yang saya kirim Syair Duka dimuat di Media Indonesia.

Namun, ketika saya tidak pernah meniatkan cerpen itu untuk dikirim ke Media Indonesia. Saya sudah menulis cerpen itu sebelumnya.

4. Menulis sesuatu yang belum pernah atau jarang ditulis orang


Maman S. Mahayana, salah seorang guru saya, pernah berkata begini, "Di antara jemuran celana jeans itu, coba kamu taruh celana dalam. pasti orang-orang akan melihat celana dalam itu, bukan celana-celana jeansnya."

Saya coba mencari sesuatu yang jarang diangkat oleh penulis lain. Ini salah satu kiat yang sering saya amalkan. Saya menulis cerpen Tambuli, Perempuan yang Berdiri di Muka Jendela berdasarkan artikel yang membahas tradisi di suku Talang Mamak. Belum pernah ada penulis yang mengangkat tradisi itu. Cerpen itu pun berhasil dimuat di Jawa Pos.

Saya sering menggunakan cara itu untuk menembus media. Hampir semua cerpen itu dimuat di media, seperti Tedong Helena dan Syair Duka yang mengangkat tradisi rambu solok (dulu jarang yang mengangkan tradisi ini. sekarang sudah banyak yang menuliskannya), Dilarang Menjala Ikan di Hari Sabtu yang mengangkat tradisi melaut orang-orang suku Mandar, Pieter Akan Mati Hari Ini yang mengangkat sejarah kota Jakarta, dll.

5. Pantang Menyerah


Joni Ariadianata pernah bercerita, ia mengirimkan cerpen ke Kompas berkali-kali. Namun, baru cerpen ke-100 ayng dikirimnya mampu menembus Kompas. Cerpen itu pun langsung terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas.

Bayangkan, jika Joni Ariadinata berhenti mengirim cerpen setelah 99 cerpennya ditolak Kompas? Kita tidak akan mengenal namanya sebagai sastrawan.

Maman S. Mahayana pernah mengatakan, kirim terus cerpen kamu ke media. Cerpen pertama sampai kesepuluh mungkin tidak akan dilihat sama sekali. Namun, jika kamu sering mengirimkannya, pasti redaktur akan penasaran juga dengan karya kamu. Ia akan mulai mempertimbangkannya.

Selamat mencoba!

Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini