3 Masalah dalam Bahasa Indonesia yang Merusak Mental Bangsa



Seseorang bernama Kang En menulis artikel di media massa (Abadi, 1971). Judul artikelnya sangat provokatif, yaitu "Bahasa yang Merusak Mental Bangsa". Tulisan Kang En itu dibahas kembali oleh Soeparno dalam bukunya Dasar-Dasar Linguistik Umum (Yogya: Tiara Wacana, 2002, h. 6-7).

Menurut Soeparno. artikel Kang En itu berangkat dari hipotesis Whorf-Sapir yang melihat pengaruh bahasa dalam kebudayaan. Dalam artikelnya itu, Kang En mengungkapkan 3 masalah dalam bahasa Indonesia yang mempengaruhi kebudayaan masyarakat penuturnya, yakni (1) masalah kata sapaan, (2) masalah kala (tenses), dan masalah salam (greeting).

Masalah Kata Sapaan


Dalam artikelnya, Kang En mengemukakan bahwa kata sapaan dalam bahasa Indonesia meminjam kata dari perbendaharaan hubungan kekerabatan atau famili, seperti bapak, ibu, saudara. Hal itu, memiliki dampak bagi masyarakat penuturnya yang memiliki sifat familier dan nepotis. Boleh jadi, nepotisme yang berkembang di negeri ini disebabkan oleh penggunaan kata sapaan itu.

Masalah Kala (Tenses)


Bahasa Indonesia termasuk dalam kategori bahasa aglutinatif, yakni tidak mengenal kala (tenses). Menutur kang En, hal itu mengakibatkan masyarakat penuturnya kurang memedulikan dan menghargai waktu. Kenyataannya, jam karet sudah menjadi budaya bangsa ini.

Masalah Salam (Greeting)


Dalam bahasa Indonesia, salam yang populer adalah "Apa kabar?". Menurut Kang En, "apa kabar" memiliki sugesti untuk memburu berita. Akibatnya, masyarakat Indonesia lebih suka ngobrol di perjalanan, misalnya, daripada membaca buku. hal ini berbeda dengan perilaku bangsa yang menggunakan salam "how do you do". Masyarakat penggunanya terbiasa bekerja atau melakukan sesuatu, seperti membaca buku dalam perjalanan.

Tentu saja, apa yang dikemukakan oleh Kang En itu perlu diteliti. Misalnya saja, apakah masyarakat berbahasa tipe aglutinatif lain juga memiliki budaya ngaret seperti di Indoensia? Bukankah dalam bahasa Inggris juga dikenal salam how are you yang semisal dengan apa kabar? Semua itu perlu penelitian lebih lanjut.
Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini