Perjanjian yang Kuat

Tahun 2006, ketika itu malam. Ringtone HP mengudara. Aku membuka mata. Ada miscal dari nomor yang tak kukenal. Mataku enggan membuka lebih lama. Aku kembali tertidur. Azan Subuh melenguh, aku terjaga. Selepas salat, aku kembali teringat. Siapa yang menghubungiku semalam? Jangan-jangan ada yang ingin memesan naskah? Aku mengirimkan sms ke nomor itu.

Afwan, tadi malam saya udah tidur
Jadi ga dengar ada tlp. Ini no siapa ya

Tak segera ada balasan. Setelah Subuh hampir menghilang, ada sms yang masik ke inbox HP-ku. Dari nomor yang menelponku semalam.

Saya Hafi, dapat no mas denny dari Buku La Runduma.
Saya baca cerpennya di buku itu. Saya anggota FLP ranting UM

Begitulah, kami berkenalan. Awalnya saya mengira orang ini hanya iseng saja, seorang teman yang sedang ingin ngerjain. Mengapa? Sebab buku La Runduma tidak diperjualbelikan. Ternyata buku itu disebarkan ke perpustakaan Kampus. Salah satunya di Universitas Negeri Malang. Dia berminat dengan buku itu, setelah kedatangan Wa Ode Wulan Ratna dan Helvy Tiana Rosa ke kampusnya.

Setelah beberapa kali berinteraksi, saya merasa ada yang janggal. Namanya Hafi, seperti nama lelaki. Tapi bahasa sms-nya seperti perempuan. Hmm... saya menanyakan kepadanya. Ternyata dia seorang perempuan.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, aku berkunjung ke rumahnya di Jombang, menemui orang tuanya. Kusampaikan niatku untuk menikahinya. Entah apa yang mendorongku ketika itu, mungkin karena aku ingin segera menggenapkan agama. Aku ingin dapat menundukan pandang dan menjaga kemaluan. Bukankah untuk itu Allah mensyariatkan pernikahan?

Dan aku harus menunggu. Sampai dia lulus kuliah. Dua tahun! Bukan waktu yang sebentar, bukan? Namun, belakangan aku mensyukuri keputusan orang tuanya itu. Kadang aku berpikir, sepertinya aku gila! Ketika aku menemui orang tuanya, aku belum bekerja di Balai Pustaka. Aku hanya seorang penulis lepas dengan penghasilan yang pas-pasan. Seandainya orang tuanya ketika itu langsung menyetujui, mungkin aku harus menguburkan niat untuk menikahinya, sebab dari mana aku memperoleh biaya untuk menikah?

Dua tahun bukan masa yang mudah untuk kami. Setelah komitmen pernikahan aku tawarkan kepadanya, berkali-kali aku mendapat tawaran untuk menikah. Sebab itu aku tak menutup-nutupi proses aku dengan dirinya. Belakangan aku tahu, ini menyalahi sunnah. Apa boleh buat, semua telah terjadi. Itu sebabnya, aku berikhtiar sekuat mungkin untuk menikahinya.

Pertengahan tahun 2007, orang tuanya bermaksud menjodohkan dirinya dengan familinya yang sedang kuliah di Jogja. Alhamdulillah dia menolaknya. Dia lebih memilih aku, meski calon yang ditawarkan itu berasal dari golongan menengah ke atas, dan calon sarjana. Sedang aku?

Tak berapa lama beselang, aku mendapat pekerjaan di Balai Pustaka. Ah, Allah benar-benar menepati janjinya. Allah memang berjanji akan mencukupkan orang yang menikah. Ya, hanya bermodal keyakinan pada Allah itu lah aku menawarkan pernikahan kepadanya.

Begitulah, tanggal 6 Juli 2008, aku mengambil perjanjian yang kuat dengan Hafi, perempuan yang Allah ciptakan dari tulang rusukku. Dan revolusi pun dimulai. Revolusi menegakkan kalimatullah diawali dari rumah kami yang kecil dan sangat sederhana. Insyaallah, dari dalam rumah itu akan lahir generasi yang mencintai Allah dan rasul-Nya, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Amin

Share on Google Plus

About Denny Prabowo

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini