Elegi Sakit Gigi

Oleh Ken Shin



“Ceritakan padaku tentang sakit hati,” kataku pada juru cerita itu.
Maka juru cerita itu pun bercerita tentang sakit gigi.
***
Seumur hidupnya pemuda itu belum pernah sakit gigi. Sejak kecil dia memang rajin sekali menggosok giginya. Dua kali sehari. Seperti yang diajarkan oleh ibunya. Tapi sejak mengenal wanita itu, dia jadi sering meninggalkan kebiasaan menggosok gigi sebelum memejamkan mata di malam hari.
Semua bermula dari kedatangan sahabatnya, seorang rekan penulis yang tinggal di sebuah kota di jawa tengah. Cerpen-cerpen karya mereka kerap mengisi lembar-lembar majalah remaja ibu kota. Dari sanalah persahabatan mereka berawal, hingga tercetus niat dari sahabatnya untuk mengunjungi pemuda itu, yang tinggal  di pinggiran kota Jakarta, dengan membawa serta naskah kumpulan cerpennya. Kebetulan pemuda itu memiliki beberapa teman yang bekerja di penerbitan.
Embun masih bersemayam di pucuk-pucuk daun, saat sahabatnya sampai di kediaman pemuda itu. Segelas teh manis, semangkok bubur ayam menemani obrolan keduanya. Berceritalah dia tenang penulis-penulis lain yang kerap mengisi lembar-lembar majalah yang sama dengan mereka.
Sahabatnya itu mengeluarkan ponselnya. Tak berapa lama suara ringtone mengudara. Sahabatnya itu baru saja mengirimkan pesan singkat ke seorang teman penulis yang tinggal di sebuah kota jauh di seberang laut sana, di sebelah timur Indonesia. Sahabatnya itu mengabarkan kepada penulis itu tentang pertemuan mereka. Mereka sempat menduga kalau penulis yang sangat produktif dan sempat magang di majalah yang sering memuat cerpen-cerpen karya mereka itu, masih berada di Jakarta. Tak berapa lama SMS balasan datang. Ternyata dia sudah tak lagi berada di Jakarta. Sudah kembali ke kota asalnya.
Lalu bercerita lah sahabatnya itu tentang seorang penulis wanita, yang karya-karyanya sering kali berbagi halaman dengan karya-karya pemuda itu dan sahabatnya, di majalah remaja ibu kota. Kembali sebuah SMS dikirimkan oleh sahabatnya itu. Mengabarkan pertemuan kami kepada wanita itu.
Dan seperti sebuah kebetulan yang telah di rencanakan—oleh Allah swt—ternyata wanita yang tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah, tempat prajurit-prajurit negeri ini ditempa itu juga tengah berada di kota Jakarta!
Lalu tercetuslah niatan dari mereka untuk saling bertemu. Mulanya wanita itu yang berniat mengunjungi kediaman pemuda itu. Rute bus kota yang menuju ke rumah pemuda itu pun telah dikirimkan via SMS. Namun kemudian, rencana diubah. Pemuda itu dan sahabatnya yang kemudian mengunjungi rumah famili, tempat wanita itu menginap, karena pemuda itu jauh lebih mengenal jalan-jalan di Jakarta dari pada wanita itu.
Selepas zuhur, hamper pukul satu, pemuda itu dan sahabatnya pergi menemui wanita itu di kediaman familinya. Berbekal petunjuk yang di berikan, pukul tiga sore, mereka baru tiba di lokasi tujuan. Kemacetan menyebabkan perjalanan menjadi sedimikian lamanya. Sebuah masjid disepakati menjadi tempat bagi wanita itu menjemput mereka. Karena jalan yang menuju ke rumahnya begitu jauh, dan terlalu rumit untuk diterangkan.
Asar berjamaah sempat dikerjakan oleh pemuda itu dan sahabatnya, sebelum seorang lelaki bertubuh tegap, berambut cepak, berpenampilan serupa seorang tentara, datang menemui kami di masjid itu. Lelaki yang dikirim wanita itu untuk menjemput mereka. Lalu sebuah perkenalan. Saling menyebutkan nama. Dengan sepeda motor, lelaki itu mengantarkan mereka satu per satu, menyusuri gang-gang sempit, menuju rumah famili wanita itu. Sahabatnya yang lebih dulu sampai di sana, bertemu dengan wanita itu. Sedang pemuda itu datang setelahnya.
***
“Pemuda langsung jatuh cinta pada wanita itu?” tanyaku menebak.
“Kata siapa?” juru cerita itu malah balik bertanya.
“Biasanya begitu kan?” kataku, “cinta pada pandangan pertama?”
“Dengar dulu ceritaku.”
Kemudian juru cerita itu melanjutkan ceritanya yang sempat terpenggal.
***
Dan mereka pun saling menyebutkan nama, memperkenalkan nama masing-masing. Di mata pemuda itu, wanita itu bukanlah seorang wanita yang sungguh special. Biasa saja. Jauh dari kesan wanita idamannya.
Dan cerita pun meluncur dari mulut mereka, mengalir seperti air. Mengisi detik-detik dengan kaeakraban yang penuh keceriaan.
Senja menyemburat di garis cakrawala. Menyela keakraban percakapan di antara mereka. Sebentar lagi azan magrib melenguh dari menara-menara masjid. Selalu. Selalu ada perpisahan, di setiap perjumpaan. Tak ada yang pernah tinggal abadi. Seperti sebuah kemestian yang tak mungkin dihindarkan.
Sebelum mereka mohon diri, wanita itu sempat mengabarkan tentang cerpen karya dari pemuda itu yang dimuat di majalah Cinta. Kembali, lelaki yang menjemput mereka di masjid tadi, mengantarkan mereka hingga ke tepi jalan raya, sebelum mereka menyetop angkot, dan barlalu membawa kenangan akan perjumpaan hari itu.
Sampai di rumahnya, pemuda itu…
***
“Pemuda itu menelpon wanita itu, dan mengatakan kalau dia jatuh cinta kepadanya?” selaku, menduga kalimat berikut yang akan diucapkan oleh juru cerita itu.
“Kamu benar-benar gak sabaran ya?”
“Habis… cara kamu bercerita bikin aku penasaran.”
“Mau dilanjutkan gak ceritanya?”
Aku menjawab dengan anggukan.
***
Pemuda itu memang menghubungi wanita itu. Tapi tidak menelponnya. Dia mengirim pesan singkat ke ponsel wanita itu. Menanyakan tentang kebenaran informasi yang diberikan wanita itu. Pemuda itu tidak menemukan cerpennya di majalah Cinta. Wanita itu membalas SMSnya. Menegaskan kembali kabar yang dia beri. Ternyata pemuda itu mencari cerpennya di edisi majalah yang sudah kadaluarsa, sedang yang baru belum terbit.
Dan sejak itu, mereka jadi sering bertukar sapa melalui telepon genggam. Dari sekedar menanyakan kabar, mengingatkan waktu salat dan makan siang, sampai berdiskusi tentang kepenulisan. Lalu sebuah keakraban. Terjalin tanpa paksaan. Seperti sebuah kewajaran. Pemuda itu mulai menikmatinya. Mungkin juga wanita itu.
Hampir tujuh tahun semenjak pemuda itu menanggalkan seragam putih abu-abunya, dia tak pernah mengalami jatuh cinta kepada wanita manapun. Sebenarnya bukan tak pernah. Hanya saja, pemuda itu memang tak membiarkan hatinya disinggahi seseorang dari kaum Hawa. Kehidupannya yang serba pas-pasaan memaksanya bersikap demikian. Sampai pertemuannya dengan wanita itu.
Tiba-tiba saja hidupnya menjadi penuh warna. Lalu seperti petani cinta. Dia menanam benih-benih cinta di ladang hati yang selama ini dibiarkan tak berpenghuni. Pemuda itu seolah menemukan tujuan. Jalan di depannya membantang. Ringan langkah kaki dia ayun. Menatap masa depan dengan senyum.
Malam hari tak lagi sepi. Wanita itu seolah mengirimi pelita melalui pesan-pesan singkatnya. Mereka sering melewati malam-malam terjaga sambil berdiskusi apa saja. Pemuda itu jadi sering lupa dengan pesan ibunya, untuk selalu menggosok gigi sebelum berangkat ke alam mimpi.    
***
“Pemuda itu sakit gigi?” tebakku.
“Persis!” kata juru cerita itu, “Kali ini tebakanmu tepat sekali!”
“Sepertinya…”
“Kenapa?”
“Ah, nggak… coba kamu teruskan ceritamu itu.”
“Baiklah.”
Dan juru cerita itu pun kembali bercerita.
***
Suatu malam, wanita itu menghubungi pemuda itu di telepon genggamnya.  Bercerita banyak hal. Mereka bahkan merencanakan untuk menulis sebuah novel bersama.
Beberap bulan setelah malam itu, wanita itu mengungkapkan niatnya mengujungi pemuda itu di Jakarta, melanjutkan diskusi mereka tentang novel yang akan mereka garap bersama. Tapi karena satu dan lain hal, rencana itu batal dilaksanakan. Mereka tak jadi bertemu di Jakarta. Dan untuk kebutuhan cerita yang akan mereka garap, pemuda itu pun berjanji untuk berkunjung ke kota dimana wanita itu tinggal.
Namun belum sampai pemuda itu mengunjunginya, wanita itu mengirimkan sebuah email kepada pemuda itu. Dalam emailnya itu dia mengaku telah menyembunyikan sebuah rahasia dari pemuda itu. Dan akan menceritakan rahasianya, saat pemuda itu datang berkunjung ke kotanya. Dan…
***
“Mereka bertemu?” dugaku.
“Belum,” kata juru cerita itu.
“Maksudnya?”
Maka juru cerita itu pun melanjutkan ceritanya.
***
Pemuda itu belum sampai datang menemui wanita itu di kotanya. Lagi pula, siapa bisa menjamin, sebuah rencana pasti terlaksana? Maka pemuda itu pun mendesak wanita itu untuk mengungkapkan rahasianya, tanpa menunggu pertemuan mereka.
Mulanya wanita itu ragu. Dia takut, kalau pemuda itu akan menjauhinya, setelah mendengar rahasia yang akan dia tuturkan. Sampai akhirnya dia bersedia bercerita, setelah lebih dulu pemuda itu mengucap janji tak akan menjauhi setelah tau rahasianya.
Lewat sebuah email bersubjek: RAHASIAKU, wanita itu menceritakan sebuah rahasia yang kelak akan menorehkan luka di hati pemuda itu. Dalam emailnya wanita itu bertutur tentang pernikahannya, sehari sebelum malam dia menelpon pemuda itu! Sebuah pernikahan yang telah direncanakan, sejak pertemuan wanita itu dengan pemuda itu di Jakarta untuk yang pertama kalinya! Pernikahannya dengan seorang lelaki. Lelaki yang menjemput pemuda itu dan sahabatnya dengan sepeda motor di masjid ketika pemuda itu bertemu dengan wanita itu untuk pertama kalinya!
Sebuah email balasan dikirim oleh pemuda itu. Dalam email itu pemuda mempertanyakan keputusan wanita itu untuk merahasiakan pernikahan darinya. Membiarkannya terus menanam harapan , padahal bunga itu telah dipetik oleh lelaki lain. Terlambat! Begitu SMS yang dia kirimkan setelahnya, sebelum pemuda itu mengirimkan ucapan selamat. Malam itu…
***
“Pemuda itu sakit hati?”
“Juga sakit gigi!”
“Sakit gigi?”
“Ya,” kata juru cerita itu, “Malam itu dia tak bisa memejamkan matanya, bukan saja karena dia merasa sakit hati, tapi juga karena rasa sakit di giginya, akibat dari jarangnya dia menggosok gigi  sebelum berangkat tidur semenjak mengenal wanita itu!”
“Lalu apa alasan wanita itu merahasiakan pernikahannya dari pemuda itu?”
Juru cerita itu melanjutkan ceritanya.
***
Hanya beberapa hari kemudian wanita itu kembali mengirimkan email. Dalam email itu dia menjelaskan alasan mengapa harus merahasiakan pernikahannya dari pemuda itu. Wanita itu mengaku telah jatuh hati dengan pemuda itu, kalau saja dia belum memiliki seorang pendamping. Dan sempat terpikir sebuah rencana untuk membatalkan pernikahannya.
***
“Jadi wanita itu juga telah jatuh hati kepada pemuda itu?”
“Menurut kamu?”
“Lho...” aku garuk-garuk kapala, “Lalu bagaimana hubungan mereka selanjutnya?”
“Pemuda itu menepati janjinya, untuk tidak menjauhi wanita itu. Mereka masih berteman sampai sekarang.”
“Apakah pemuda itu masih mencintainya?”
“Tidak. Dia bahkan bersyukur wanita itu tak membatalkan pernikahannya, untuk kemudian berpaling padanya.”
“Mengapa?”
“Kamu lebih tahu jawabannya.”
“Aku? Mengapa begitu?”
Juru cerita itu mengeluarkan sebuah buku harian dari dalam tasnya. Sepertinya buku itu…
“Kalau menaruh buku harian jangan sembarangan, nanti dibaca sama orang!” kata juru cerita itu, sebelum menyerahkan buku harian milikku kepadaku.
“Jadi, cerita yang kamu ceritakan tadi…”
“Iya.”

“....?!?!?!?!”[]
Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini