Setelah Malam Pertama

Cerpen Denny Prabowo
Dimuat dalam antologi Imajinasi Tentang Kota (Festival Seni Surabaya, 2010)

Sejak malam pertama yang gagal itu, apakah aku masih bisa mengharapkan kesetiaan dari seorang lelaki yang kecewa?

Aku tak dapat melupakan raut wajahnya, ketika di ujung percintaan kami yang mestinya menggairahkan, tak ia temukan setetes darah menoda di pangkal pahaku. Begitu pentingkah arti darah di malam pertama bagi seorang lelaki? Aku tak pernah mampu menemukan jawaban paling memuaskan atas pertanyaan itu.

Ia hanya terdiam memandangi langit-langit kamar. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Megapa ia tidak bertanya saja kepadaku, apakah kamu pernah tidur dengan laki-laki lain sebelumnya? Dan aku akan menjawab dengan serentetan kemungkinan, yang pernah aku baca dari artikel-artikel di majalah wanita, tentang penyebab wanita tidak mengeluarkan darah di malam pertama, meski ia belum pernah berhubungan intim sebelumnya. Atau aku pernah berhubungan intim sebelumnya?

Aku tidak pernah merasa melakukannya, meski aku tak sepenuhnya percaya dengan perasaanku. Setidaknya aku bisa bercerita tentang malam “lepas lajang”, seminggu sebelum pernikahan kami. Bukankah lelaki menyukai kejujuran? Namun, ia lebih memilih diam sambil memandangi langit-langit kamar. Dan aku tahu betul arti diam itu. Sepertinya kejujuran memang bukan jalan keluar yang masuk akal untuk kutawarkan kepadanya.

Sejak malam itu, percintaan kami tak lagi memiliki arti, kecuali sekadar rutinitas serupa minum obat. Tak ada percakapan yang mengairahkan. Tak ada perbincangan tentang masa depan. Semua berjalan seperti putaran jarum jam di dinding kamar itu, tanpa kemungkinan kehabisan batrai. Sampai aku mulai merasa mual-mual.
“Kamu masuk angin?” tanyanya dingin, waktu melihat aku memuntahkan semua makanan yang kusantap saat makan malam.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Sesungguhnya aku berharap ia datang menghampiriku dan memijat-mijat tengkukku. Rupanya dia lebih suka melanjutkan memijit-mijit tombol kayboard laptop-nya.

“Sebaiknya kamu periksa ke dokter,” sarannya kemudian seperti yang terlalu sering diucapkan orang. Ah, seandainya dia melanjutkan kalimat itu dengan, “Aku akan mengantarmu”. Tentu aku akan segera datang memeluknya, seperti yang aku lakukan ketika kami untuk pertama kali masuk ke dalam kamar ini, di malam pertama kami. Namun, seusai percintaan yang mengairahkan itu, segalanya berjalan seperti sebuah sandiwara paling amatir yang dipentaskan anak-anak sekolah dasar. Dan aku mulai bosan memerankan diriku sendiri.

Tuhan pasti mengetahui kebosananku pada peran yang itu-itu saja dengan adegan itu-itu juga. Maka dikirimkannya segumpal janin yang telah berusia 3 bulan ke dalam rahimku.

“Selamat ya!” ucap Dokter Hadi, dokter yang dulu membantu Mama melahirkan aku.

Aku hanya tersipu. Apakah aku harus berbahagia? Mungkinkah janin di dalam kandungan ini, akan menjadi awal kebahagiaan dalam bahtera palsu, yang selama ini kami dayung bersama dalam kepalsuan pula?

Ah, setidaknya Tuhan menjawab doaku. Ia memberikan peran baru kepadaku, meski peran yang lama tetap saja tak bisa kutanggalkan. Ada seseorang yang kini bisa kuajak bicara, meski dia baru segumpal daging yang belum bertelinga.

“Kamu hamil?” tanya suamiku, nyaris tanpa ekspresi dan tekanan suara yang membuat aku curiga, bahwa dia tengah bahagia mendengar kehamilanku.

Aku tak menjawab, hanya menyodorkan hasil laboratorium yang diberikan Dokter Hadi. Ia tidak segera membuka amplop surat itu, apalagi membaca isinya. Dia hanya menerima untuk kemudian meletakkannya di antara berkas-berkas lain di meja kerjanya. Apakah aku masih boleh berharap suamiku merasa bahagia mendengar kehamilan diriku? Atau… mungkinkah dia mencurigai anak ini bukan darah dagingnya? Pertanyaan itu mendamparkan aku pada peristiwa malam pertama. Laiknya gunung meletus tertimbun badai salju. Membakar mula-mula. Lalu berakhir beku.

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang palsu yang telah merekam gerak-gerik palsu sepasang suami istri yang sedang terbakar gelora palsu. Semenjak kehamilanku, ranjang ini kian palsu. Bahkan sekadar gelora palsu pun perlahan menjadi beku. Ranjang itu tak lebih dari emperan toko yang dijamahi tubuh-tubuh dekil para gelandangan di malam hari, sekadar untuk menuntaskan kantuk saja.

Apakah aku masih layak mengharapkan kebahagiaan? Bahkan bertahan di atas bahtera palsu ini pun seperti berjalan di atas sebilah pedang seruncing rambut dibelah tujuh. Mungkin aku berlebihan. Tapi mengapa tidak harus berlebihan?

***

Akhirnya, yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Apa yang dapat diharapkan dari seorang lelaki yang kecewa sejak malam pertama? Sedemikian pentingkah arti darah itu baginya? Sedemikian berartinya hingga ia merasa perlu memacari gadis tetangga yang masih duduk di bangku SMA?

Semula aku tak mau percaya mulut para pembantu di kompleks perumahan kami. Namun, video mesra di ponselnya sudah cukup bukti bagiku untuk menawarkan sebuah perpisahan.

“Baik, kita bercerai,” ujarnya tanpa usaha untuk melakukan pembelaan. Barangkali memang ini yang diharapkannya, sejak ia tak mendapati setetas darah di pangkal pahaku pada malam pertama kami.

Aku tiba-tiba menjelma jadi setrikaan. Mondar-mandir dalam kamar tak karuan. Terbayang bagaimana hidup dengan satu anak tanpa seorang suami. Ah, aku tak pernah membayangkan jadi janda di usia yang sedemikian muda. Namun, setidaknya itu lebih baik daripada harus mendayung bahtera palsu di tengah badai salju yang beku.

Begitulah, aku menjadi seorang single parent bagi Ajeng, putriku yang tak pernah mengenal ayahnya. Sejak bercerai dengannya, kami seperti dua kutub bumi yang selamanya tak mungkin bertemu. Ia bahkan tak pernah menganggap Ajeng ada. Mungkin pikirnya, siapa dapat menjamin seorang anak yang dikandung seorang istri yang tak mengeluarkan darah di malam pertama berasal dari benih suaminya? Aku benar-benar tak dapat mengerti jalan pikiran lelaki. Apakah semua lelaki seperti suamiku?

***

Sejak bahtera kami karam oleh badai salju yang beku, aku memang tak lagi berminat mengenal lelaki. Aku memang tak sampai pada kesimpulan bahwa semua lelaki sama brengseknya dengan suamiku. Namun, aku juga tak mudah percaya pada lelaki. Sejak perceraian kami, aku lebih memilih merawat Ajeng, ketimbang menerima dongen-dongeng surga dari laki-laki tentang sebuah bahtera yang meluncur di atas sungai berair susu. Kesendirian adalah pilihan yang paling masuk akal bagiku. Lagi pula, aku tak merasa benar-benar sendiri. Bukankah ada Ajeng bersamaku? Dia kini telah duduk di bangku SMA. Usia yang sungguh rawan. Seperti seutas benang di ujung pedang paling tajam.

Seperti malam itu, Ajeng pulang begitu larut diantar oleh seorang lelaki. Apakah lelaki itu pacarnya? Aku sangsi, sebab usianya tampak jauh lebih dewasa untuk tidak mengatakan tua. Mungkin lelaki itu lebih pantas menjadi ayahnya.

“Permisi, Bu,” kata lelaki yang mengantarnya, “saya mohon diri dulu.”

Aku bergeming. Tak hirau kepadanya. Rupanya ia tahu diri. Kemudian pergi selepas mengucapkan salam. Aku tak menjawab salamnya. Namun diam-diam aku berpikir tentang lelaki yang mengantar Ajeng itu. Apakah dia seorang suami dari seorang istri sepertiku? Seorang suami yang merasa gagal di malam pertamanya karena tak menemukan setetes darah di pangkal paha istrinya?

Aku teringat pada anak gadis tetangga yang menjalin kasih dengan suamiku. Apakah akhirnya mereka menikah? Ah, apa peduliku. Di depanku ada seorang putri yang pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Begitu mabuknya sampai-sampai tak lagi mampu membuka mata. Mulutnya terbuka mengeluarkan suara dengkuran yang keras sekali. Tubuhnya berpeluh. Mungkin ia tampak kelelahan setelah menengak minuman keras dan bergoyang sepanjang malam di lantai diskotik.

Aku tak perlu menanyakan pada putriku, darimana kebiasaan menenggak minuman keras itu ia pelajari. Bukankah sejak kecil ia suka sekali mengoleksi botol-botol minuman milikku? Tapi sejak kapan ia mengenal diskotik? Sejak malam ‘lepas lajang’-ku yang digelar teman-temanku di sebuah diskotik, aku tak pernah lagi menginjakan kaki ke tempat itu. Suamiku bukan penikmat dunia gemerlap. Ia seorang penyendiri yang kronis.

Malam itu mereka membuat duniaku seperti gangsingan, sampai aku tak mampu lagi berdiri dengan kedua kakiku. Aku benar-benar mabuk. Aku bahkan tak ingat siapa yang telah mengantar aku ke kamar kos. Aku hanya mengingat, ketika aku bangun pagi hari, aku tak lagi mengenakan pakaian yang aku kenakan pada malam harinya. Apakah dalam mabuk aku menyetop sebuah taksi, lalu sesampai di kamar kos aku mengganti pakaianku yang boleh jadi penuh noda muntah? Entahlah. Besok pagi aku harus bicara dengan Ajeng, putriku.

“Aku hamil, Mama….” Pengakuan Ajeng menciptakan badai di dalam kepalaku. Sementara hatiku seperti hutan kering yang terbakar.

“Siapa yang menghamilimu?” tanyaku berusaha tenang setenang air telaga yang di bawahnya tersimpan magma, “apakah lelaki yang mengantarmu semalam?”

“Siapa yang mengantarku semalam?” Ajeng malah balik bertanya.

“Kau tidak tahu siapa yang mengantarmu semalam?”

“Apakah aku harus tahu?”

Ah, mengapa sulit sekali bicara dengan putriku? Ingin rasanya menampar wajah Ajeng saat itu. Tapi tidakkah itu sama dengan aku menampar wajahku sendiri? Apakah dengan menamparnya, janin di dalam kandungan Ajeng lantas hilang entah ke mana? Duhai… apa yang harus aku lakukan?

***

Pintu kamar pengantin itu terbuka. Seorang lelaki dengan piyama paling indah masuk dengan lengkung pelangi di wajah tampannya. Tiba-tiba suhu dalam kamar itu terasa kian membekukan. Aku merapatkan kimono yang diberikan lelaki itu dalam ritual seserahan sebulan lalu. Lelaki yang telah resmi menjadi suamiku itu memelukku dari belakang sambil menikmati aroma tubuhku. Aku masih bergelut dengan pikiranku. Apakah malam ini akan jadi awal drama palsu dalam bahtera paling palsu yang akan kami dayung bersama, ketika di ujung percintaan kami nanti, tak ia temukan setetes darah menoda di pangkal pahaku?

Ah, ada yang belum kukatakan yang seharusnya aku katakan, apakah masih berarti jika kukatakan? []



Gunungsahari, September—Desember 2009




Share on Google Plus

About Denny Prabowo

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

4 ulasan:

  1. Betulan ada cerita kyak sinetron dikehidupan nyata

    BalasPadam
  2. @kim aira: kenapa speechles? hehe

    BalasPadam
  3. @Anonim: mungkin karena fiksi tiruan kehidupan nyata, jadi mungkin saja ada kesamaan,

    BalasPadam

Tinggalkan jejak sobat di sini