Naratologi A.J. Greimas

Oleh Denny Prabowo



Secara etimologis struktur berasal dari kata structura dari bahasa Latin yang berarti bentuk atau bagunan. (Ratna, 2006:88). Menurut Hawkes, strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang lebih merupakan susunan relasi daripada susunan benda. Unsur-unsur tidak memiliki makna sendiri-sendiri. Setiap unsur dalam sebuah struktur baru memiliki makna setelah berada dalam jalinan relasi dengan unsur-unsur lain yang terkandung dalam struktur tersebut (dalam Nugiantoro, 2005:37; Jabrohim, 1996:9).
Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik (Nurgiantoro, 2005:37). Analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1988:135).
Knok C. Hill berpendapat bahwa karya sastra pada dasarnya adalah sebuah struktur yang kompleks. Oleh karena itu, sebuah karya sastra perlulah terlebih dahulu dianalisis strukturnya yang kompleks itu (Mutiara, dkk., 1998:7). Analisis struktural merupakan perioritas utama sebelum yang lain-lain (Teeuw, 1983:61)
Algirdas Julien Greimas adalah seorang peneliti strukturalis asal Prancis (Teeuw, 1988:293). Ia berhasil mengembangkan teori strukturalisme menjadi strukturalisme naratif berdasarkan analogi-analogi struktural dalam linguistik yang berasal dari Ferdinand de Saussure (Hawkes dalam Jabrohim, 1996:11).
Greimas memperkenalkan konsep satuan naratif terkecil dalam teks yang disebut aktan (Pujianti, 2010)[1]. Ia lebih mementingkan aksi daripada pelaku. Subjek dalam narasi merupakan manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Baik actans maupun acteurs dapat berupa suatu tindakan, tetapi tidak selalu harus merupakan manusia, melainkan juga nonmanusia. Terkait perbedaan antara actans dan acteurs, Ratna menjelaskan sebagai berikut (Ratna, 2004:138)

Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif, yang dibedakan menjadi tiga oposisi biner, acteurs merupakan katagori umum. Dalam kalimat ‘John dan Paul memberikan apel kepada Mary’, John dan Paul adalah dua acteurs, tetapi satu actans. John dan Paul juga merupakan pengirim, Mary adalah penerima. Dalam kalimat ‘John membelikan dirinya sendiri sebuah baju’, John adalah satu acteurs yang berfungsi sebagai dua actans, baik sebagai pengirim maupun sebagai penerima.


Dengan demikian, suatu aktan dalam suatu struktur dapat dapat menduduki fungsi aktan yang lain atau suatu aktan dapat berfungsi ganda. Bisa saja, suatu aktan memiliki fungsi subjek dan penerima atau fungsi subjek dan pengirim.
Aktan adalah sesuatu yang abstrak, seperti cinta, kebebasan, atau sekelompok tokoh. Pengertian aktan dikaitkan dengan satuan sintaksis naratif, yaitu unsur sintaksis yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu, yakni satuan dasar cerita yang menerangkan kepada tindakan yang bermakna yang membentuk narasi. Subjek dan predikat dalam suatu kalimat dapat menjadi kategori fungsi dalam cerita(Jabrohim, 1996:13).
Aktan menempati enam fungsi, yaitu subjek (subject), objek (object), pengirim (sender), penerima (reciver), penolong (helper), penentang (opposant). Keenam fungsi tersebut membentuk tiga oposisi, yakni pengirim-penerima, subjek-objek, dan penolong-penentang. Apabila disusun dalam sebuah skema, oposisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.


Pengirim (sender) adalah seseorang atau sesuatu yang mendorong atau menimbulkan keinginan subjek (subject) untuk mendapatkan atau mencapai objek (object). Oleh sebab itu, pengirim berfungsi sebagai penggerak cerita. Sedangkan penerima (reciver) adalah seseorang atau sesuatu yang menerima atau mendapatkan objek yang diburu oleh subjek.
Subjek adalah seseorang atau sesuatu yang ditugaskan oleh pengirim untuk mendapatkan objek. Sementara itu, objek adalah seseorang atau sesuatu yang diinginkan, dicari, atau diburu oleh subjek.
Penolong (helper) adalah sesuatu atau seseorang yang membantu atu mempermudahkan upaya subjek untuk mendapatkan objek. Sedangakan Penentang (opposant) adalah seseorang atau sesuatu yang menghambat upaya subjek untuk mendapatkan objek.
Tanda panah dalam skema adalah unsur penting yang menghubungkan fungsi sintaksis masing-masing aktan. Tanda panah dari pengirim ke objek menunjukan fungsi pengirim sebagai penggerak subjek untuk mendapatkan objek. Tanda panah dari objek ke penerima menunjukkan fungsi penerima sebagai pihak yang mendapatkan objek yang diburu oleh subjek. Tanda panah dari subjek ke objek menunjukkan fungsi subjek sebagai pihak yang ditugasi oleh pengirim untuk mendapatkan atau memburu objek. Tanda panah dari penolong ke subjek menunjukkan fungsi penolong dalam membantu subjek yang tengah berusaha untuk mendapatkan objek. Tanda panah dari penentang ke subjek memperlihatkan fungsi penentang dalam menghambat upaya subjek untuk mendapatkan objek (Jabrohim, 1996:14).
Antara penerima dan pengirim terdapat suatu komunikasi, antara pengirim dan objek terdapat tujuan, antara subjek dan objek terdapat usaha, antara penolong dan penentang terdapat bantuan atau tantangan (Suwondo dalam Jabrohim, 1996:14—15; Ratna, 2006:139).
Selain analisis aktan dan skema aktansial seperti yang dipaparkan di atas, A.J. Greimas mengemukakan model cerita yang tetap sebagai alur, yang kemudian disebutnya dengan istilah model fungsional. Greimas menyebut model fungsional sebagai suatu jalan cerita yang tidak berubah-ubah. Model fungsional mempunyai tugas menguraikan peran subjek dalam rangka melaksanakan tugas dari sender atau pengirim yang terdapat dalam aktan. (Jabrohim, 1996: 16)
Operasi struktur model fungsional terbagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) bagian pertama merupakan deskripsi dari situasi awal; (2) bagian kedua merupakan tahap transformasi yang terbagi lagi dalam tiga tahap, yaitu tahap uji kecakapan, tahap utama, dan tahap kegemilangan; dan (3) bagian ketiga merupakan situasi akhir. Bila dijelaskan dalam bagan, maka ketiga bagian tersebut menjadi bagan sebagai berikut.

Bagian Awal
Bagian Tengah
Bagian Akhir
Transformasi
Situasi Awal
Tahap
Uji Kecakapan
Tahap
Utama
Tahap Kegemilangan
Situasi Akhir

Tirto Suwondo mengemukakan bahwa model aktan dan model fungsional mempunyai hubungan kausalitas karena hubungan antaraktan itu ditentukan oleh fungsi-fungsinya dalam membangun struktur cerita. Baik aktan maupun model fungsional saling memiliki relasi dalam membentuk struktur cerita utama atau struktur cerita pusat (Jabrohim, 1996:19). Oleh sebab itu, dalam penelitian ini, penulis hanya akan mencari skema aktan dan model fungsional yang membentuk struktur cerita inti saja.



[1] Pujianti, Fariska. 2010. “ Dekonstruksi Dominasi Laki-laki dalam Novel The Da Vinci Code karya Dan Brown”., Tesis Progam Pascasarjana Magister ILmu Susastra Universitas Diponegoro Semarang.
Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini