Begini Proses Penerbitan Karya-Karya A.A. Navis


Kamu kenal penulis cerpen fenomenal “Robohnya Surau Kami”? Yup, benar kalau kamu jawab A.A. Navis. Ada banyak fakta menarik mengenai karya-karya A.A. Navis, dari soal ditolak media, sampai menulis untuk mendapatkan uang. Penulis Lepas mengumpulkan beberapa fakta mengenai cerpen-cerpen A.A. Navis buat kamu semua.

Ditolak Kisah, tapi Diterima Mimbar Indonesia


A.A. Navis pernah mengirimkan dua judul cerpennya, “Datang dan Pergi” dan “Anak Kebanggan” ke majalah Kisah. Namun, kedua cerpennya itu ditolak oleh majalah tersebut. Dia enggak patah semangat. Kedua cerpen itu dikirim lagi ke majalah Mimbar Indonesia. Cerpen itu diterima! Mau tahu uniknya di mana? Nama H.B. Jassin tercantum dalam redaksi majalah Kisah dan Mimbar Indonesia. Kalau begitu, kenapa bisa ditolak di Kisah lalu diterima Mimbar Indonesia? Boleh jadi, ketika dikirim ke Kisah, bukan Jassin yang menyeleksi cerpennya. Sedangkan waktu dikirim ke Mimbar Indonesia, Jassin yang menyeleksi dua cerpen Navis itu dan memuatnya di majalah itu.

Ditolak Prosa, Malah Diterjemahkan ke Bahasa Jerman


Cerpen “Angin dari Gunung” dikirim A.A. Navis ke majalah Prosa. Namun, redaksi majalah itu menolaknya. Akhirnya, cerpen itu ia muat dalam kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami. Cerpen itu justru dianggap menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan diterbitkan bersama cerpen dari 27 penulis lainnya.

Menang Lomba karena Sukses Menebak Selera Jurinya


Kalau kamu mau dimuat di media, cari tahu siapa redaksinya. Pernah dengar nasihat seperti itu? Nah, A.A. Navis juga suka mempraktikkan hal itu, loh. Bukan hanya mencari tahu selera redaksi, Navis juga pernah menebak-nebak selera juri suatu lomba penulisan novel. Waktu Unesco dan Ikapi bekerja sama untuk mengadakan lomba, Navis coba mencari tahu siapa jurinya. Rupanya, juri lomba itu bukan kritisi sastra, melainkan seorang sosiolog dan seorang ahli pedagogi. Ia pun menulis novel tentang seorang gadis bisu-tuli yang tersia-sia, tapi terus berjuang untuk menjadi manusia yang punya nilai seperti manusia normal pada umumnya. Navis memberi judul novel itu Saraswati, si gadis dalam Sunyi. Kamu tahu hasilnya? Juri memilih novelnya itu sebagai pemenang!

Produktif Menulis Cerpen Gara-Gara Dikucilkan Bos


A.A. Navis pernah bekerja di Jawatan Kebudayaan Sumatra Tengah. Pada tahun 1955, bosnya mengucilkan Navis. Ia tidak diberikan pekerjaan apa-apa oleh bosnya. Ia hanya duduk bengong memperhatikan rekan-rekan kerjanya mondar-mandir di depannya bikin sakit hati. Daripada keluyuran keluar kantor malah bikin bos makin marah, Navis memilih untuk mengambil mesin ketik, lalu mulai menulis dan terus menulis. Hasilnya? Cerpen “Pada Pembotakan Terakhir” dan cerpen “Robohnya Surau Kami” lahir dan sukses menembus majalah Kisah! Bahkan, cerpen “Robohnya Surau Kami” terpilih jadi cerpen terbaik majalah Kisah pada tahun itu.

Menulis Cerpen untuk Menyambung Hidup


Pada akhir tahun 1955, Navis keluar dari pekerjaannya. Untuk menyambung hidupnya, ia banyak menulis cerpen untuk majalah-majalah ringan, seperti Roman, Waktu, dan Aneka. Tiga tahun kemudian muncul pemberontakan PRRI. Selama peristiwa itu, Navis banyak menulis cerpen-cerpen yang kemudian ia muat dalam kumpulan cerpen Bianglala dan Hujan Panas. Selain itu, masih ada beberapa puluh cerpen lainnya yang dimuat di majalah sastra atau nonsastra. Katanya, “Pokoknya, majalah yang bisa menyediakan honor lebih baik.” Namun, meski ia menulis cerpen-cerpen hiburan, ia tidak terjerumus untuk menulis cerpen hiburan murahan.

Begitulah proses penerbitan karya-karya A.A. Navis, sastrawan asal Sumatra Barat yang terkenal dengan cerpen "Robohnya Surau Kami" itu.

Share on Google Plus

About Denny Prabowo

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini