Pejuang Kesenian yang Getir dan Sepi

Oleh: Denny Prabowo



: biografi Trisno Sumardjo
(1916—1969)

Sebuah buku usang di atas meja kantorku, Kata Hati dan Perbuatan (Balai Pustaka, 1952). Aku hampir tak pernah membacanya, kecuali sekadar membolak-balik halaman demi halamannya yang kertasnya tak lagi putih. Sampai aku membaca artikel “Surrealisme” yang ditulis oleh H.B. Jassin (1953: 22). Ia menyebut salah satu dramamu dalam buku usang di atas meja kantorku. “Tumbang” judul karanganmu itu, yang oleh Jassin disebut drama bergenre surealisme. Aku membuka-buka buku usang itu, mencari drama yang dimaksud. Lalu membacanya. Ah, aku seperti merasakan kegelisahanmu. Kegelisahan seorang pengarang bernama Trisno Sumardjono yang dilahirkan di Tarik, Surabaya, 6 Desember 1916. Ayahmu bernama Mohammad As’ari, seorang guru bantu. Ia menyekolahkanmu di MULO hingga tamat pada tahun 1933-an. Kemudian kau melanjutkan ke AMS II (Barat Klasik) di Yogyakarta.
Setamat dari AMS. Kauikuti jejak ayahmu menjadi guru partikelir di kota Jember, Jawa Timur (1938—1942). Ketika Tentara Jepang menduduki Pulau Jawa, kau hijrah ke Madiun untuk bekerja sebagai pegawai Jawatan Kereta Api (1942—1946). Di kota penghasil brem inilah kau mulai tertarik dengan dunia sastra, seperti yang tertuang dalam drmamu, “Dokter Kambudja”. Namun, di awal kemerdekaan (1947), kautinggalkan pekerjaan yang membuatmu merasa terbebani, selain karena bukan bidang yang kaugemari, juga karena sikap tentara Jepang yang kejam. Lalu kautinggalkan Madiun, kautinggalkan seorang gadis yang kelak akan menjadi pendamping hidupmu. Kota Solo menjadi persinggahanmu yang berikutnya. Di kota pusat kebudayaan inilah kau bertemu dengan teman-teman seniman, lalu mendirikan majalah Seniman. Selama kurang rentang tahun 1947—1948 kau menjadi redaktur di majalah tersebut. Namun, Solo tak mampu menampung luapan kreativitas kesenianmu. Awal tahun 1950 kauputuskan untuk hijrah ke Jakarta, ibukota negara yang mulai berbenah diri sehabis revolusi fisik. Di Jakarta kau memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris redaksi di majalah kebudayaan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun yang sama di bulan Juli, kau dipercaya sebagai Sekretaris Lembaga Kebudayaan. Setahun kemudian kau menikahi gadis pujaanmu di kota Madiun, Sukartinah.
Kalau ada keberuntungan di dalam hidupmu, mungkin karena gadis kelahiran Surabaya 23 Juni 1924 bernama Sukartinah, yang kaunikahi pada 18 Maret 1951. Pendamping hidup yang memberimu dua orang putra bernama Lestari (1955) dan Budi Santoso (1956).
Prinsip kesenian bukanlah alat mengejar materi ternampak dari kehidupan rumah tanggamu yang sederhana. Beruntunglah dirimu memiliki pendamping hidup yang begitu memahami dan menerima pribadimu yang keras memegang prinsip-prinsip hidup. Begitu kerasnya hingga sering menimbulkan kesan kaku di antara teman-temanmu.
Selepas dari pekerjaanmu di majalah Indonesia tahun 1952, kau mendapat beasiswa visitorship rockefeller. Selama enam bulan kau mengunjungi Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Pernah pula kau bekerja sebagai redaktur majalah Seni di tahun 1954. Di tahun itu pulalah istrimu mengandung, kemudian melahirkan seorang putri yang kaunamai Lestari pada 15 April 1955. Ketegangan yang kau rasakan selama proses kelahiran putrimu sungguh memukaumu, sebuah cerpen pun lahir dari tanganmu yang terhimpun dalam buku Rumah Raya (1957). Setahun kemudian, di tanggal 15 Juni 1956, putra keduamu yang kauberinama Budi Santoso, hadir kedunia. Dan dari kelahirannya, lahir pula cerpenmu yang kaujuduli, “Asran”. Di tahun kelahiran putramu itu, kau dipercaya sebagai Sekretaris Umumu Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BKMN).
Kurang lebih setahun setelah putra keduamu lahir, 1957, kaukunjungi Negeri Tiongkok sebagai ketua delegasi sastrawan Indonesia dalam studi sastra banding. Tahun 1961 State Departement USA mengundangmu ke Amerika. Di tahun yang sama, sebagai seorang pelukis, kau menggelar pameran tunggal.
September 1963, tepatnya di tanggal 17 Agustus, bersama teman-teman seniman yang sepemikiran denganmu, kau turut mencetuskan Manifestasi Kebudayaan. Gerakan kebudayaan yang membuatmu harus berkonfrontasi dengan orang-orang Lekra. Pada tanggal 18 Mei 1964, Presiden Soekarno yang secara ideologis dekat dengan Lekra menyatakan gerakan Manifestasi Kebudayaan sebagai gerakan yang terlarang. Kalian bahkan tak dibolehkan menulis di media baik yang beredar di ibukota maupun di daerah. Sampai Orde Lama tumbang dan digantikan oleh Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto, pelarangan itu pun dicabut. Dan situasi berbalik bagi anggota-anggota Lekra.
Meski dilarang menulis di surat kabar, pada tahun 1964, kau menjadi pimpinan umum Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia di jakarta. Puncak perjuanganmu di bidang keseniaan adalah berdirinya Taman Ismail Marzuki. Kau tercatat sebagai perintis utama.
Saat kau bekerja sebagai redaktur di majalah Gaya (1968), tepatnya di tanggal 19 Juni, atas jasamu merintis Taman Ismail Marzuki (TIM), Gubenur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, Ali Sadikin, mempercayaimu sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, sekaligus terpilih sebagai Ketua Badan Pengurus Harian, hingga ajal menjemputmu di Rumah sakit Cipto Mangunkusumo, 21April 1969, karena serangan jantung. Kau tak mewariskan selain rumah dinas di kompleks TIM kepada istri dan kedua anakmu.
Taufiq Ismail dalam “Catatan Kebudayaan” di majalah Horison Nomor 6 tahun ke-IV, Juni 1969 menulis: Kesenimanan Trisno Sumardjo di dalam bidang penulisan karya sastra, pelukis, atau seni rupa, penerjemahan, pemikir kebudayaan, dan pejuang kesenian Indonesia yang gigih bertahan dan keras hati, serta seorang pejuang yang getir dan sepi.
Namun, melalui kegigihan serta kegetiranmu, kau wariskan pada kami pusat kesenian TIM dan karya-karyamu yang salah satunya ada di atas meja kerjaku saat ini, Kata Hati dan Perbuatan (Balai Pustaka, 1952). Di ujung pembacaan buku tersebut, tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang teramat kepada dirimu. Kerinduan seorang penulis muda kepada pejuang kesenian yang gigih dan getir.
Karinduan itu mengusik keinginanku untuk berburu karya-karyamu yang lain seperti Silhuet (Yayasan UNIK, 1952, kumpulan puisi), Rumah Raya (Pembangunan, 1957, kumcer), Daun Kering (Balai Pustaka, 1963, kumcer), Penghuni Pohon (Balai Pustaka, 1963, kumcer), Keranda Ibu (Balai Pustaka, 1963, kumcer), Wajah-Wajah yang Berubah (Balai Pustaka, 1968, kumcer), Cinta Teruna (Balai Pustaka, 1953, drama), Saudagar Venezia (Pembangunan, 1950, terjemaham karya Shakespears), Hamlet (Pembangunan, 1950, terjemaham karya Shakespears), Machbeth (Pembangunan, 1052, terjemaham karya Shakespears), Manasuka (Balai Pustaka, 1952, terjemaham karya Shakespears), Prahara (Balai Pustaka, 1952, terjemaham karya Shakespears), Impian di Tengah Musim (Balai Pustaka, 1953, terjemaham karya Shakespears), Dongeng-Dongeng Perumpamaan (Balai Pustaka, 1959, terjemahan karya Jean de La Fountain), Dokter Zhivago (Djambatan, 1960, terjemahan karya Boris Pasternak), Romeo dan Juliet (BMKN, 1955 cet.2 Oxford University Press, 1960, terjemaham karya Shakespears), Maut dan Misteri (Djambatan, 1969, terjemaham karya Edgar Allan Poe).
Daftar Bacaan
Sumardjo, Trisno. 1952. Kata Hati dan Perbuatan. Jakarta: Balai Pustaka
Jassin, H.B. 1953. Tifa Penjair dan Daerahnja. Jakarta: Gunung Agung
Dr. Suroso, M.Th dan Drs. Puji Santosa, M.Hum. 2009. Estetika Sastra, sastrawan, dan Negara. Yogyakarta: Pararaton Publishing
Rustapa, Anita K., Agus Sri danardani, Bambang Trisman. 1997. Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia 1920—1950. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini