Sastra dan Tujuan Penciptaan

Esai Denny Prabawa


Setiap penciptaan pasti memiliki tujuan, seperti juga sastra. ”Aku tidak ingin menjadi robot!” begitu tegas seorang teman penulis ketika ditanya apa tujuannya menulis karya sastra. Sebuah peryataan yang menyiratkan keinginan akan sebuah kebebasan.

Robot diprogram untuk mematuhi setiap perintah pembuatnya, begitu juga manusia yang diciptakan untuk beribadah—mematuhi setiap perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Seperti firman Allah dalam Alqur’an surat Adz Dzaariyat ayat 56, ”Dan tidak Ku-ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku”

Namun berbeda dari robot yang tidak memiliki kemungkinan untuk membantah perintah pembuatnya, manusia dibekali akal selain naluri yang membedakannya dengan hewan. Dan akal pula yang seringkali membuat manusia memiliki agenda sendiri ketika melakukan ’penciptaan’, bahkan tak jarang bertentangan dengan misi penciptaan dirinya.

Islam merupakan sistem hidup yang tidak memisahkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Apa yang kita lakukan di dunia menjadi rujukan, di kampung mana kelak Allah Swt. akan menempatkan kita—surga atau neraka?

Dalam manifes kebudayaan dan kesenian islam 13 desember 1963 di jakarta, para seniman, budayawan muslim, serta para ulama yang dimotori Djamaludin Malik menyatakan, bahwa yang disebut dengan kebudayaan, kesenian Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta, dan karya manusia muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan umat manusia.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Dalam dunia psikoterapi, dikenal sebuah metode komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik memandang gangguan jiwa bersumber pada gangguan komunikasi (Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi, cetakan ke 17, November 2001, hal 5). Sastra bisa juga dipandang sebagai bentuk komunikasi—antarmanusia dengan manusia dan manusia dengan Sang Pencipta. Kamus psikologi, Dictionary of behavioral Science, menyebutkan enam pengertian komunikasi. Salah satunya, komunikasi merupakan proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan. Dan komunikasi—pemahaman, memperoleh nilai, dan menggerakkan tindakan—adalah tujuan akhir dari seni sastra (Joni Ariadinata, Aku Bisa Nulis Cerpen, hal 34). Dalam setiap acara talkshow kepenulisan saya seringkali mendapatkan pertanyaan semacam ini: ”Seperti apakah karya yang baik itu?” Maka jawaban saya: ”Karya yang baik adalah karya yang mampu menggerakkan orang untuk melakukan perubahan menuju ke arah kebaikan.” Pemahaman ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah di muka Bumi.

Albert Camus dalam bukunya Mite Sisifus mengatakan bahwa sastra tidak boleh memihak apa pun kecuali dirinya sendiri. Peryataan ini jelas bertentangan sekali dengan apa yang disampaikan Seno Gumira Ajidarma dalam esainya Kehidupan Sastra dalam Pikiran yang mengatakan, Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena jika jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Sastra tentu saja harus berpihak pada kebenaran dan keadilan, pada nilai-nilai Islam tanpa harus kehilangan nilai estetikanya (Helvi Tiana Rosa, 2001).

Majelis Seniman dan Budayawan Islam yang di antaranya terdiri dari Hamka, M. Shalih Suady dan Bahrum Rangkuti dalam bab tentang sikap Islam terhadap kebudayaan dan kesenian, mengatakan bahwa tujuan kebudayaan pada umumnya dan kesenian pada khususnya tidaklah semata bertujuan ’seni untuk seni’ atau ’seni untuk rakyat’ tetapi harus diluhurkan menjadi: ’seni untuk kebaktian ke hadirat Allah’. Dengan kata lain, seni khususnya sastra merupakan wujud penghambaan atau ibadah kita kepada Allah. Karena tujuan manusia diciptakan tak lain untuk menyembah-Nya. Dalam Ethica Nichomahea, Aristoteles, seorang filusuf besar mengatakan: ”Berusaha dan berkarya demi kesenangan saja adalah bodoh dan kekanak-kanakan.”

Maka, sebelum kalian menggerakkan pena untuk menuliskan sebuah karya sastra, ingatlah pada tujuan penciptaan manusia. Gerakkanlah sebanyak mungkin orang untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan. Saya percaya, kalian tak mau dikatakan bodoh dan ke kanak-kanakan, sebab hanya berkarya demi sebuah kesenangan saja.

Kelak Allah akan menutup mulut kita, maka berkatalah tangan kita tentang apa yang dilakukannya selama hidup di dunia, seperti yang tertuang dalam surat Yasin ayat 65. Wallahu a’lam bish-shawab.


Rumah Cahaya, 11.07.2006 21:34 WIB
Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini