Terminal

Oleh Denny Prabowo


Hari beranjak tua. Namun terminal ini tak lantas menjadi sepi. Semakin ramai bahkan. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Orang datang. Orang pergi. Ditunggu. Menunggu. Meski bertambah ramai, tak membuatnya menjadi padat. Seolah sudah diatur—entah oleh siapa—sedemikian rupa agar tak menjadi padat.

Kemarin, dua buah bus datang menumpahkan 100 orang penumpang dari pintu-pintunya, hanya beberapa saat sebelum sebuah bus yang membawa 50 penumpang pergi meninggalkan terminal. Kemarinnya lagi, hanya satu bus yang datang dengan membawa 50 penumpang ke terminal ini, dan beberapa menit kemudian dua buah bus berangkat meninggalkan terminal membawa 100 orang penumpang. Hari ini? Entah. Aku tak pernah bisa menduga, berapa bus membawa berapa penumpang datang, berapa bus membawa berapa penumpang pergi. Yang aku tahu bus-bus itu datang dari tujuan yang sama, dan pergi ke dua tujuan yang berbada. Dan setiap orang tak pernah bisa menduga, ke mana tujuannya. Mereka hanya menerima saja dengan bus apa mereka akan dibawa ke tujuan yang mereka sendiri tak tahu.

Dua puluh lima tahun sudah, sejak aku dibawa dengan sebuah bus ke terminal ini. Entah apa saja yang telah aku perbuat selama masa dua puluh lima tahun berada di terminal ini, sia-sia aku mengingat. Tak ada yang berarti. Tak jadi prasasti. Hidup bagiku hanyalah menunggu (atau ditunggu?) sebuah bus yang akan membawaku pergi meninggalkan tempat itu dengan tujuan yang aku sendiri takkan pernah bisa menduga—walau sebenarnya bisa saja direncanakan meski tak selalu sesuai dengan yang direncanakan, hanya saja aku tak pernah merencanakannya.

Seorang perempuan berkerudung putih mengambil kursi di sebalah tempat dudukku. Seorang kuli panggul menurunkan sebuah koper besar dari punggungnya yang kekar, meletakkannya di sebelah perempuan berjilbab putih. Lalu. Kuli panggul beranjak pergi ke arah darimana datangnya sebelum kembali lagi dengan sebuah koper yang lebih besar di punggungnya: koper milik perempuan berkerudung putih.

Dan ketika kulihat kuli panggul itu pergi dan selalu kembali membawa koper milik perempuan berkerudung putih yang lebih besar dari yang dibawa sebelumnya, terlintas di kepalaku untuk menanyakan prihal koper-koper besar itu pada perempuan berkerudung putih. Namun urung kulakukan. Seseorang datang menghampiriku dengan membawa sebuah buku daftar nama-nama calon penumpang bus yang akan segera diberangkatkan. Dia menyebutkan namaku. Dan aku mengiyakan.

“Bus anda akan segera berangkat meninggalkan terminal.”

Aku berjalan menguntit di belakangnya. Sampai saat kakiku menapak di lantai bus, aku tetap tak mampu menduga ke mana tujuan bus membawaku pergi.

Dari tempat dudukku, aku masih sempat melihat kuli panggul itu mondar-mandir, pergi dan selalu kembali membawa koper-koper milik perempuan berkerudung putih, sebelum bus yang kutumpangi bergerak meninggalkan terminal. Aku baru menyadari kalau aku hanya membawa tas pinggang saja. Begitupun semua penumpang bus yang aku tumpangi.[]
Share on Google Plus

About Unknown

Penulis, penyunting, penata letak, pedagang pakaian, dokumentator karya FLP, dan sederet identitas lain bisa dilekatkan kepadanya. Pernah bekerja sebagai Asisten Manajer Buku Sastra di Balai Pustaka. Pernah belajar di jurusan sastra Indonesia Unpak. Denny bisa dihubungi di e-mail sastradenny@gmail.com.

0 ulasan:

Catat Ulasan

Tinggalkan jejak sobat di sini