Selasa, 28 Desember 2010

Menengok Sejarah


Oleh Denny Prabowo
Sumber: Dari Mana Datangnya Ide. Jakarta: Balai Pustaka 2010

“Sejarah bagaikan aliran sungai, catatan yang kita baca adalah sekadar catatan dan bukan peristiwa sejarah itu sendiri, karena peristiwanya sudah mengalir ke laut, hanya untuk menguap, hilang lenyap seperti asap—tetapi sejarah artinya memang sesuatu yang ditulis, sengaja dicatat untuk diingat, dan setiap pencatat mempunyai kepentingannya sendiri.”

(Seno Gumira Ajidarma)

Apakah kamu termasuk orang yang malas membaca buku sejarah? Jika jawabanya “ya” maka kita memiliki kesamaan. Entahlah, sejak dari sekolah saya lebih suka pelajaran bahasa dan pengetahuan alam. Saya tidak tertarik pada sejarah, karena malas menghafal tanggal-tanggal, bulan, dan tahun. Mungkin itu masalahnya. Kita sama-sama tidak menyukai sejarah karena hanya bergaul dengan sejarah sebatas tanggal, bulan, dan tahun-tahun di mana peristiwa masa lalu itu berlangsung. Kita tidak membaca peristiwanya.

Fiksi dan sejarah pada hakikatnya memiliki kesamaan. Di manakah kesamaannya? Fiksi dan sejarah sama-sama bersumber dari peristiwa. Oleh sebab itu, keduanya ditempatkan sebagai karya yang merekam peristiwa. Bedanya, peristiwa dalam sejarah harus dapat dipertanggungjawabkan kebenaran faktanya. Sedang peristiwa dalam sastra terbentuk melalui peniruan realitas (baca: pengalaman) yang telah mengalami proses pengamatan, perenungan, penghayatan, dan pengevaluasian, untuk kemudian coba dihadirkan kembali melalui proses pengimajinasian.

Menurut Maman S. Mahayana (2005:362—363), dibandingkan dengan sejarawan, sastrawan sebenarnya me­miliki ruang yang lebih leluasa ketika ia hendak menyampaikan refleksi evaluasinya tentang masa lalu. Secara subjektif, ia dapat memaknai dan menafsirkan fakta atau peristiwa sejarah menurut kepentingannya. Ia juga dapat menyampaikan alternatif lain di balik peristiwa-peristiwa sejarah.

Nah, kalau kamu bingung mau menulis apa, kamu bisa menengok ke masa lalu. Kamu bisa memulainya dengan mengumpulkan buku-buku sejarah kamu. Apakah ada peristiwa yang menarik minatmu? Lupakan dulu tanggal, bulan, dan tahun-tahun yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Fokus hanya pada latar, tokoh, dan peristiwa sejarahnya.

Kamu bisa menengok ke masa yang sangat jauh, seperti yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer ketika menulis novel Arok Dedes. Tepatnya tahun 1220 M, ketika seorang anak muda bernama Ken Arok menggulingkan singgasana Tunggul Ametung serta merebut istrinya, Ken Dedes. Pram menulis novel itu berdasarkan catatan sejarah, yang terdapat pada Candi Kemenangan Ken Arok atau yang biasa disebut Candi Tumapel dan karya Mpu Tanakung, “Lubdaka”, yang ditulis pada masa hidup Ken Arok.(1)

Novel sejarah karya Pram itu, ditafsir ulang oleh Sapardi Djoko Damono dengan menampilkan gaya kekinian menjadi cerpen “Hikayat Ken Arok”.(2)

Sejak melihat betis Ken Dedes, istri Pak Bupati, dalam sebuah arak-arakan keliling kota itu, Ken Arok tidak pernah bisa memejamkan mata dengan tenang lagi. Betis yang mulus bagai telur itu memancarkan sinar yang dalam benak Ken Arok sama persis dengan berbagai dongeng dari Parsi mengenai cahaya yang memancar dari tubuh putri-putri yang disimpan raja-raja kaya dalam kaputren. (Damono, 2003: 32)

Berbeda dengan Pram yang dalam pengantar novelnya membuat kronologi tahun-tahun di mana peristiwa itu berlangsung, dalam “Hikayat Ken Arok”, Sapardi tidak mencantumkan tahun-tahun. Bukan tahun-tahun itu yang penting, tetapi tokoh dan peristiwanya. Tahun-tahun bisa dicari dalam buku sejarah.

Dan Brown, penulis asal Amerika menulis novel The Da Vinci Code. Dalam novel itu, Dan Brown menceritakan tentang seorang ahli simbologi yang dituduh sebagai pembunuh kurator senior di Museum Louvre, Paris. Kurator tersebut meninggalkan serangkaian petunjuk tersembunyi di balik karya-karya terkenal Leonardo Da Vinci. Petunjuk tersebut membawa Langdon kepada sebuah kaitan yang mengejutkan: mendiang kurator itu terlibat dalam Biarawan Sion—sebuah kelompok persaudaraan rahasia yang nyata. Petualangan Langdon memecahkan teka-teki Da Vinci berujung pada terkuaknya misteri kebenaran yang disembunyikan rapat-rapat selama berabad-abad.

Di dalam buku tebal tersebut disebutkan mengenai fakta sejarah yang dipakai oleh Dan Brown, di antaranya Biarawan Sion, Prelatur Vatikan (Opus Dei), karya seni Leonardo Da Vinci, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia. Fakta sejarah tersebut lalu dipelajari, direnungkan, dihayati, dan dimajinasikan oleh Dan Brown. Ia lalu menciptakan tokoh Langdon (tokoh fiktif) yang berani membuka rahasia sejarah yang tertutup berabad-abad.

Kemunculan novel The DaVinci Code bahkan melahirkan buku-buku lainnya, yang mencoba mengkaji fakta-fakta sejarah dalam novel tersebut.

Salah satu cara menulis fiksi sejarah, yaitu dengan menghadirkan tokoh-tokoh fiktif, seperti yang dilakukan oleh Dan Brown. Meski tokoh-tokoh dalam novel itu fiktif, Dan Brown (2006: 8) mengakui bahwa, “Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat.”

Ada juga novel sejarah yang tidak mengangkat peristiwa sejarah yang besar. Kamu bisa mengambil sejarah suatu tempat sebagai latar peristiwa seperti dalam novel Mirah dari Banda karya Hanna Rambe. Dari judulnya saja kita bisa tahu bahwa kemungkinan besar cerita ini berkisar di daerah Banda. Memang benar! Fakta sejarah mengatakan bahwa Banda merupakan perkebunan pala terbaik di masa lalu. Dan ternyata, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Banda menjadi tempat perbudakan. Manusia pada masa itu mengalami tragedi kemanusiaan, di antaranya menjadi kuli kontrak oleh Belanda, romusha oleh Jepang, jugun yanfu (wanita penghibur bagi tentara Jepang), atau nyai untuk simpanan Belanda. Semua fakta sejarah itu terangkum dengan dihadirkannya tokoh fiktif yang diberi nama Mirah. Mirah membawa fakta sejarah dalam hidupnya yang juga ia alami. Dengan kata lain, Mirah menjadi jembatan untuk menyatukan fakta sejarah dan fiksi di dalam sebuah karya.

Setiap benda, setiap tempat, memiliki sejarah. Di balik nama sebuah kampung Peca’ Kulit, di kota Batavia, ternyata terdapat fakta sejarah yang sangat menarik. Konon nama itu terambil dari peristiwa eksekusi mati Pieter Erberveld. Pieter, seorang pengusaha penyamakan kulit, dituduh akan melakukan makar terhadap pemerintah Kompeni Belanda. Akibatnya, ia dan beberapa orang temannya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Tangan dan kakinya diikat, kemudian ditarik ke arah berlawanan dengan menggunakan kuda. Hancurlah tubuh Pieter. Sejak kejadian itu, kampung tempat Pieter tinggal dinamakan Peca’ Kulit.

Saya menemukan fakta lain tentang asal-usul nama kampung itu yang terambil dari usaha penyamakan kulit yang diwarisi Pieter dari ayahnya. Penya­makan dalam bahasa Betawi menja­di pecak, pengucapan­nya peca’. Kemudian saya mengajukan per­tanyaan begini, “Bagaimana jika ternyata Pieter tidak pernah dieksekusi karena diselamatkan oleh anak-anak Untung Surapati?”.

Ada seorang penyair Belanda terkemuka di zaman itu tinggal di Batavia, bernama Jan de Marre. Ia menulis buku berjudul Batavia sebanyak enam jilid. Dalam bukunya itu terdapat syair mengenai Pieter Erberveld yang menunjukkan kemuakannya pada penguasa pada zaman itu, yang telah merebut tanah Pieter, dengan cara menuduhnya melakukan makar.

Saya kemudian memanfaatkan tokoh itu sebagai narator atau pencerita dalam cerpen saya, yang juga telah membantu pelarian Pieter. Tak ada keterangan yang menyatakan bahwa Jan pernah berhubungan dengan Pieter. Begitulah saya memaknai dan menafsirkan fakta atau peristiwa sejarah, serta menyampaikan alternatif lain di balik peristiwa-peristiwa sejarah asal-usul kampung Peca’ Kulit. Hasilnya sebuah cerpen berjudul, “Pieter Akan Mati Hari Ini”.

Footnote
(1) Lihat Arok Dedes. Yogyakarta: Hasta Mitra, 2002; hlm. 3
(2) Di bawah judul cerpen itu tertulis nama Pram, agaknya cerpen itu merupakan “dialog” budaya antara Sapardi dengan Pram.
(
3) Pembahasan mengenai ini dapat dilihat dalam Saidi, Ridwan. Profil Orang Betawi—Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, Jakarta: PT Gunara Kata, 1987; hlm. 181—189

Daftar Pustaka
Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening Publishing.
Rambe, Hanna. 2003. Mirah dari Banda. Magelang: Indonesia Tera.
Saidi, Ridwan. 1987. Profil Orang Betawi—Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat. Jakarta: PT Gunara Kata.
Toer, Pramudya Ananta. 2002. Arok Dedes. Yogyakarta: Hasta Mitra.
Damono, Sapardi Djoko. 2003. Membunuh Orang Gila. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.


Wiro dan Sindrom Kolonial


Esai Seno Gumira Ajidarma
sumber: http://cetak.kompas.com

Kwik Ing Hoo meninggalkan dunia ini pada Minggu 28 November setelah mencapai usia 89 tahun. Para pelayat di rumah duka Dharma Agung, Teluk Buyung, Bekasi, pada hari itu kemungkinan besar hanya mengenalnya sebagai seorang Rahmat Junus, ayahanda Toni Junus, dan bukan ilustrator komik Wiro, Anak Rimba Indonesia, yang digubahnya bersama Lie Djoen Liem sebagai penulis teks, yang telah pindah ke Amerika Serikat. Padahal, Wiro adalah komik Indonesia yang monumental. Ada selapis generasi di Indonesia, yang pada masa kecilnya di tahun ’50-’60-an begitu bangga berkalung katapel sembari berayun dari dahan ke dahan, tiada lain karena membaca Wiro.

Komik seri Wiro yang terbit dalam sepuluh jilid sejak tahun 1956 adalah komik Indonesia yang paling unik, paling terkenal, dan paling penting di antara para ”Tarzan lokal” karena keberhasilannya membumikan karakter Tarzan ke dalam sebuah konteks Indonesia. Dengan pengakuan terbuka di dalam naratif atas sumber inspirasinya, yakni komik dan film-film tentang Tarzan dari Amerika Serikat, Wiro bahkan seperti membalikkan sudut pandang ”meniru” itu dengan pembukaan: berbagai surat kabar ”di seluruh dunia”, seperti Herald, World Gazette, Saturday Post, dan Morning Post, memberitakan ditemukannya Wiro, yang film tentang dirinya itu, Wiro, The Jungle Boy, diputar di bioskop Rex, Luxor, ataupun Capitol.

Bioskop itu tentulah maksudnya berada di Amerika Serikat, dan film itu tentulah sebuah film dokumenter produksi The American Motion Picture Coy, hasil pekerjaan Dr Watson, yang bersama Miss Lana, seorang ahli serangga, melakukan perjalanan keluar-masuk rimba raya Indonesia. Mereka nyaris terbunuh ketika ditawan ”gerombolan orang-orang liar” di dalam hutan Sumatera Utara jika tidak diselamatkan Wiro, yang kemudian bergabung untuk menjelajahi rimba seperti cita-citanya. Ya, Wiro adalah seorang murid sekolah dasar yang kurang bagus prestasinya di kelas, tetapi akrab dengan binatang, hebat dalam olahraga, dan selalu membaca komik-komik Tarzan di bawah sinar lampu tempel sampai jauh malam.

”Mungkinkah aku berhadapan dengan Tarzan? Siapakah dikau adanya,” tanya Dr Watson ketika ikatan tangannya dibuka Wiro.

”Aku bukan Tarzan, tetapi …. Wiro anak Indonesia,” jawab Wiro dengan tenang.

Prasangka rasis dan eksotisisme

Berbeda dengan pendahulunya, Tarzan of the Apes karya Edgar-Rice Burroughs pada 1912 yang tidak luput dari prasangka rasis, bahwa orang kulit putih lebih superior dibandingkan dengan orang kulit hitam, maka keberadaan Wiro sebagai anak Indonesia yang menggantikan posisi Tarzan jelas mengubah oposisi tersebut, karena dalam perubahan dari wacana kolonial menuju wacana pascakolonial memang tampak berlangsung politik identitasnya sendiri dalam proses pelepasan ikatan dari sindrom kolonial.

Dalam proses, prasangka tidak langsung menghilang. Jika Tarzan adalah bayi manusia yang dirawat kera, maka Wiro meninggalkan rumah dan masuk hutan setelah mengalami tindak kekerasan dari ayah tirinya. Melalui pengembaraannya di dalam hutan, para penggubah komik ini berpeluang menampilkan segenap fauna dengan semangat majalah National Geographic (meski terdapatnya badak di Papua tentu menimbulkan tanda tanya), yakni memperkenalkannya sebagai bagian dari keindahan alam ataupun hukum rimba, yang terpaksa dicampuri Wiro ketika mendapatkan sahabat-sahabatnya: Tesar, harimau yang terjebak akar; Kongga, induk orangutan yang anaknya diselamatkan Wiro dari sambaran ular; dan Sambo, gajah sumatera yang ditolongnya setelah tertimpa batu besar. Adapun monyet kecil Kala, didapatkan Wiro pertama kali sebelum masuk hutan, karena memang dijual di pasar. Demikianlah Wiro menjadi komik Tarzan yang Indonesia sentris.

Dalam jenis ilustrasi naratif alias komik tanpa balon, teks dan gambar tampak cocok, seperti ada kerja sama yang saling menanggapi, sehingga bagaikan tiada bagian gambar yang tidak dijelaskan. Segala kewajaran yang membuat pembacaan tidak terganggu, menunjukkan keterampilan tinggi yang tidak begitu mudah ditandingi, yang tentu juga menunjuk kepada tingkat keahlian Kwik Ing Hoo sebagai ilustrator yang tidak dapat pula diingkari. Namun, justru terhadap ”kewajaran” sebagai wacana, pendekatan realisme yang meyakinkan sebagai ”kenyataan” ini, harus dilakukan sikap kritis.

Posisi Dr Watson dan Miss Lana, misalnya, jelas tetap teracu kepada wacana kolonial, dalam oposisi biner klasik bahwa kulit putih superior dan dalam Wiro ini ”pribumi” tetap inferior; seperti ditunjukkan dalam berbagai bentuk: teknologi kamera, buku-buku ilmu pengetahuan, arsenal senapan dan tank, para portir yang mirip ”jongos” (selalu berpeci), dan apalagi penggambaran suku-suku di pedalaman ataupun di pantai, yang lebih teracu kepada eksotisisme dalam komik dan film Tarzan dari Hollywood daripada suku-suku di pedalaman Indonesia itu sendiri.

Apabila kemudian rombongan ini lantas ”membasmi” sisa serdadu Jepang di Papua, semakin jelas dalam wacana pascakolonial ini pun posisi superior kulit putih tidak tergoyahkan. Masalahnya, bagaimana dengan posisi Wiro sebagai protagonis? Tidakkah Wiro bisa dianggap berada dalam posisi yang tidak lagi inferior berhadapan Dr Watson dan Miss Lana? Sejumlah kajian di lingkungan akademik tentang komik Wiro, berdasarkan penanda bahwa Wiro makan daging babi hutan, membagikan dan menjualnya kepada penduduk kampung yang tidak menolaknya, dan ketika melewati kota selalu terlihat pula arsitektur bangunan kelompok etnik Tionghoa, menyatakan bahwa Wiro berasal dari kelompok etnik tersebut.

Namun, pembuktian semacam itu belum cukup karena rumah dan kampung halaman Wiro sendiri tidak memperlihatkan penanda yang terarah ke sana. Betapa pun, karena Wiro pasti juga bukan bagian dari suku-suku pedalaman atau pantai, mungkinkah karena itu sahih sebagai representasi karakter Indonesia? Pada tahun 1956, baru 11 tahun dari proklamasi 1945, dari para penggubah berlatar etnik Tionghoa, sebuah proyek identitas setelah runtuhnya bentuk tradisional atas identitas akibat modernitas, setidaknya telah menyumbangkan salah satu sumber alternatif bagi konstruksi identitas kebangsaan Indonesia.

SENO GUMIRA AJIDARMA,Wartawan


Senin, 27 Desember 2010

Si Jalu


Cerpen Denny Prabowo
dimuat di Favorit

Zul memiliki seekor ayam jago. Namanya si Jalu. Tubuhnya tegap. Kalau berjalan dadanya membusung. Si jalu memiliki jengger yang lebar berwarna merah darah. Paruhnya sangat lancip seperti mata pisau. Sepasang kakinya besar dan kokoh. Pada kedua kakinya terdapat sepasang jalu yang panjang dan runcing.

Zul suka sekali mengadu ayamnya dengan ayam milik teman-temannya. Biasanya, sepulang sekolah, Zul pergi ke tanah lapang di dekat rumahnya. Di tempat itulah dia biasa menyabung ayam bersama teman-temannya.

“Zul, si Aming baru dibelikan seekor ayam bangkok sama bapaknya,” kata Restu, saat mereka sama-sama pulang dari sekolah.

“Terus kenapa? Mau diadu sama si Jalu?” tantang Zul.
“Ayam bangkoknya si Aming besar sekali, Zul!”
“Lebih besar dari si Jalu?”
“Lebih besar dari si Jalu!”

“Tapi aku yakin si Jalu bisa mengalahkannya!” Selama ini si Jalu memang selalu memenangkan pertarungan. Zul sangat membanggakan ayamnya itu.

“Kamu yakin Zul?”

“Bilang sama si Aming, nanti sore suruh bawa ayam bangkoknya ke tanah lapang!”

“Nanti aku bilang sama si Aming.”

Dan sore harinya, Zul pergi ke tanah lapang dengan membawa si Jalu. Di tempat itu sudah menunggu si Aming dengan ayam bangkoknya yang diberi nama si Jengger. Restu juga ada di sana bersama teman-teman yang lainnya. Mereka tentu tak akan begitu saja melewatkan pertarungan besar ini.

Begitu melihat kedatangn Zul, Aming langsung melepas ayam bangkoknya. Anak lainnya yang ada di sekitar segera berdiri membentuk lingkaran gelanggang.

“Ayo zul, lepas si jalu!” tantang Aming penuh percaya diri. Si Jengger memang kelihatan lebih besar dari si Jalu.

Seperti tahu kalu ia mau diadu, si Jalu berkokok lantang sambil mengepak-kepakkan kedua sayapnya, menantang. Siap untuk berlaga. Dan Zul pun segera melepaskannya ke tengah-tengah gelanggang.

Bulu-bulu di tengkuk kedua ayam itu mengembang, tanda mereka siap untuk bertarung.

“Ayo Jalu, hajar ayam itu! Bikin dia keok!” Zul menyeru memberi semangat pada ayamnya.

Aming tak mau kalah. Dia pun menyeru kepada ayamnya, “Ayo Jengger, kalahkan si Jalu! Patuk dia sampai berdarah-darah!”

Anak-anak lainnya ikut bersorak-sorang menyemangati.

Dan pertarungan antara si Jalu dengan si Jengger pun dimulai. Kedua ayam itu saling mematuk. Terbang menerjang dengan jalu-jalunya. Si Jalu yang tubuhnya lebih kecil dari lawannya sering terpelanting-pelanting. Baru kali ini dia mendapatkan lawan yang berat. Tapi si Jalu pantang meneyerah begitu saja. Dia tak mau kalah. Bulu-bulu mereka berontokan. Gugur ke tanah.

Zul, Aming, Restu dan teman-teman lainya terus bersorak-sorai kegirangan.

Cukup lama juga pertarungan antara si jalu dengan si Jengger berlangsung. Sampai akhirnya si Jalu, jago yang selama ini tak terkalahkan, lari terkeok-keok di kejar si Jengger. Dia sudah tidah tahan lagi menahan nyeri luka akibat patukan maupun hujaman jalu milik si jengger. Aming bersorak kegirangan karena ayamnya berhasil keluar sebagai pemenang dalam pertarungan itu. Dia mengelus-elus tengkuk si Jengger yang juga banyak luka-luka.

Zul kecewa. Dia menjadi geram dan marah-marah pada ayamnya.

Sepulangnya Zul ke rumah, si Jalu dimasukan begitu saja ke dalam kurungan dari bambu Padahal, biasanya, setiap selesai bertarung, dia selalu mengobati luka-luka si Jalu. Tapi kali ini tidak. Bahkan dia enggan memberikan si Jalu makan. Ayam jago yang dulu selalu dibangga-banggakannya itu tertunduk lesu. Mungkin karena rasa nyeri di tubuhnya. Dia tampak sangat lemah. Pasti dia juga sangat haus dan lapar. Tapi Zul sama sekali tidak peduli dengan keadaan ayam jagonya itu.

Si Jalu yang kesakitan merintih-rintih di dalam kurungan bambu. Saat malam datang, zul tak kunjung memindahkannya ke kandang. Bahkan Zul tidak menengok sama sekali keadaan si Jalu. Si Jalu harus puas tidur beralaskan tanah yang lembab dan dingin. Dia hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mau memberikan keadilan kepadanya. Selama ini, dia sudah membuat Zul bangga karena selalu memenangkan pertarungan. Tapi giliran dirinya berhasil dikalahkan oleh si Jengger, Zul menyia-nyiakannya begitu saja. “Ah, kalau saja Zul bisa merasakan penderitaanku…,” keluah si Jalu.

^^^

Tengah malam, Zul terbangun dari tidurnya. Betapa tekejutnya dia, saat membuka mata, dirinya telah berada di dalam kurungan si Jalu. Bukan itu saja. Zul merasakan sekujur tubuhnya remuk-redam. Serasa tak memiliki rangka. Lemas. Dia juga merasakan nyeri sekali. Belum lagi hawa malam yang dingin, ditambah tanah lembab, membuatnya menggigil. Zul benar-benar merasa tersiksa. Dia berusaha berteriak memanggil kedua orangtuanya. Tapi suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti kokokan seekor ayam. Seperti… kokakan si Jalu?!

Zul mendapati dirinya telah berubah wujud menjadi si Jalu!

Zul meronta-ronta di dalam kurungan bambu. Berusaha keluar. Dia terus berusaha sepanjang malam. Sampai akhirnya, menjelang Subuh, Zul yang telah berubah menjadi si Jalu berhasil keluar dari kurungannya. Dia berkokok keras sekali di depan jendela kamar kedua orangtuanya.

Zul mengepakkan sayapnya gembira, waktu dia melihat lampu kamar kedua orangtuanya menyala. Zul langsung berteriak begitu melihat wajah ayahnya muncul di jendela kamarnya. Tapi ayahnya tidak mengerti dengan ucapan Zul yang seperti suara kokokan ayam. Maka Zul melompat dan bertengger di jendela kamar ayahnya. Dan kelakuannya itu membuat ayahnya menjadi kesal. Dia mengusir Zul yang berwujud seekor ayam dengan sapu. Mendapat perlakuan seperti itu, Zul segera melarikan diri. Dia lari tunggang langgang, terbang ke pagar, dan melompat turun ke luar halaman rumahnya.

Tapi saat kakinya baru saja menjejak tanah, entah dari mana, tiba-tiba bermunculan puluhan ekor ayam. Si Jengger yang tubuhnya besar juga ada di sana. Ayam-ayam itu siap menyerang Zul yang telah berubah wujud menjadi si Jalu. Zul yang berwujud seekor ayam merasa ketakutan. Dia berusaha melarikan diri. Tapi ayam-ayam itu mengepungnya. Ayam-ayam itu maju selangkah demi selangkah ke arah Zul, siap mematuk dan melukai Zul dengan jalu-jalunya yang bertaji. Zul menjadi gemetar melihat taji yang tajamnya seperti sebuah silet. Dia berteriak-teriak. Sampai…

Duk!

“Aduh…” Zul terjatuh dari tempat tidurnya. Dia meringis kesakitan. Rupanya dia hanya bermimpi. Ah, bagaimana seandainya hal itu benar-benar terjadi… pikir Zul. Dia teringat dengan si Jalu, ayam kesayangannya. Semalaman dia tidak memasukkan si Jalu ke kandangnya. Tidak mengobati luka-lukanya. Dan membiarkan ayamnya kehausan serta kelaparan.

Pasti si Jalu sangat menderita, batinnya. Zul segera berlari ke halaman belakang. Tapi dia tidak menemukan si Jalu di dalam kurungan bambu. Jangan-jangan…

“Cari apa Zul?” tegur ayahnya yang sudah bersiap berangkat kerja.
“Si Jalu, Yah!”
“Itu di kandangnya.”

Zul melihat si Jalu berada di dalam kandangnya. Meringkuk kesakitan.

“Semalam Ayah yang memasukkan si Jalu ke kandangnya. Kamu habis mengadu si Jalu ya? Lihat, tubuh si Jalu penuh luka.”

Zul menganggukkan kepala. Menyesal.

“Ya sudah, sekarang kamu obati luka-luka si Jalu. Lalu beri dia makan biar kesehatannya lekas pulih kembali.”

Zul segera mengeluarkan si Jalu dari kandangnya. Dia mengelus-elus ayam kesayangannya itu. Dan berjanji dalam hati tak akan pernah menyabung ayam lagi.


Kamis, 09 Desember 2010

Di Puncak Itu, Tardji!


Esai Hasan Aspahani

Sumber: http://www.journalbali.com/

UNTUKNYA, pada tahun 1976, sahabatnya Abdul Hadi W.M. menulis sebuah sajak empat bait, masing-masing bait berisi tiga baris. Saya kutipkan dua bait terakhirnya: Kita adalah jantung, sungai yang dibentuk tebing curam, Kita tahu laut tak lebih dalam. Kita tahu. Tapi datang. Di ombak kita mendebur tak bosan membongkar karang.

Di sajak itu ada pernyataan akan kesadaran diri yang tinggi. Ada isyarat bahwa mereka telah berbuat, beranjak dari suatu tempat dan mencapai sesuatu. Ada pemberitahuan bahwa mereka dengan sadar menempuh jalan yang tak sedap untuk mencapai hakikat.

Begitulah. Mereka: jantung sungai yang lebih dalam dari laut karena mereka dibentuk oleh tebing curam! Bayangkan itu! Tapi, mereka pergi juga, mengarungi laut itu, menempuh risiko bahaya dan ancaman. Menyatu dengan deburnya, menjadi ombak, untuk membongkar karang. Tanpa rasa bosan!

Kelak Abdul Hadi WM yang sudah melengkapi perjalanan hidupnya dengan gelar Prof dan DR di depan namanya, menyimpulkan dengan bahasa lain, apa yang dulu ia sajakkan. Tidak ada penyair Indonesia lain, kata Abdul Hadi, seperti Sutardji yang begitu total melakukan perlawanan metafisik terhadap kondisi kemanusiaan bentukan peradaban materialistik dan positivistik.

Lewat sajak yang dipersembahkan padanya, juga lewat tafsir atas sajak dan kepenyairannya, kita bisa memahami dia: Sutardji Calzoum Bachri.

Beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dengannya. Saya dan sahabat saya Hendri Anak Rahman, menjemput Bang Tardji di Bandara Hang Nadim. Sosok lelaki kelahiran Rengat, 24 Juni 1941 itu tak berubah. Hanya usia yang membungkukkan tubuhnya yang tak terlalu besar itu.

Ia selalu tampak amat nyaman dengan jaket kain, kaos berkerah, celana kargo, sepatu sandal, kaos kaki dan topi yang tersampir sekenanya di kepalanya, tak terlalu berniat menutupi rambutnya yang masih ia biarkan panjang dan karena itu ia harus ia rapikan dengan menguncirnya!

“Ini anak saya, Mila,” katanya, memperkenalkan gadis yang datang bersamanya. Mila Seraiwangi, anaknya satu-satunya, anak yang sudah menyelesaikan kuliah di jurusan akuntansi. “Dia tak berminat pada sastra,” kata Bang Tardji penuh permakluman seorang ayah, sama sekali tak ada kesan ia menyayangkan pilihan anaknya itu.

Sastra Indonesia, dan bahkan bangsa Indonesia sesungguhnya sangat beruntung memiliki seorang Sutardji Calzoum Bachri. Dan saya, merasa sangat terberkati karena beberapa kali bisa bertemu langsung dengannya, melihat dia tampil di panggung resitasi puisi, dan kelak kami bergantian tampil di panggung yang sama.

Jika ada yang merisaukan bahwa puisi Indonesia tidak pernah membina pondasinya dengan kuat, maka saya selalu bilang: bacalah buku “Isyarat”, kumpulan esai Sutardji Calzoum Bachri. Buku ini – ah, maafkan saya yang pasti terdengar berlebihan – bolehlah dianggap sebagai “kitab suci” bagi puisi Indonesia. Di buku terbitan IndoensiaTera ini, Sutardji mengumpulkan semua tulisan nonpuisinya, dimulai dengan kredonya yang masih saja memancarkan sinar terang-benderang itu.

Sutardji tak pernah jauh dari dunia tulis-menulis. Ia pernah menjadi redaktur di sejumlah surat kabar dan majalah. Ia mengasuh rubrik puisi, dan di sana ia menulis banyak sekali hal-ihwal kepenyairan dan perpuisian. Bagi saya, buku setebal 506 halaman ini telah menjawab sebagian besar pertanyaan besar, pertanyaan dasar, dan pertanyaan nakal saya tentang puisi.

Saya berdoa agar Bang Tardji terus diberi usia panjang dan stamina kuat untuk membaca sajak di panggung. Jika kelak ia menyusul sang mata kanan (Chairil Anwar – ingat pernyataan terkenal Dami N Toda tentang analogi mata kiri dan mata kanan), maka apa yang diwariskan oleh Sutardji di buku berhias foto saat ia mendedahkan dada di depan podium, dan di atas podium itu ada gelas dan sebotol bir – adalah emas 24 karat.

Dan Bang Tardji punya warisan lain yang belum terurus. Ia adalah pembaca puisi paling hebat di negeri ini. Maaf, saya sungguh yakin belum ada penandingnya untuk urusan ini. Pernah suatu hari di pangkal tahun 2000, ada pementasan sajak di Jakarta. Sutardji tampil bersama Rendra dan Taufik Ismail. Tardji juaranya, tentu saja. Ia memulai tampil dengan atraktif: turun dari atas panggung dengan ayunan tali, menyanyikan blues! Koran sebesar Kompas pun memajang adegan itu di halaman utama!

“Rendra itu kan tak mau kalah. Makanya kalau tampil dengan saya dia selalu cemas. Malam itu dia kalah telak!” kata Sutardji terkekeh-kekeh mengenang pementasan di awal milenium itu.

Itulah warisannya yang harus segera dikumpulkan, yaitu foto-foto dan rekaman saat ia tampil membaca puisi. Ia menyebut ada beberapa nama fotografer senior yang memegang hak cipta atas foto-fotonya. “Di Kompas pasti ada arsipnya,” kata Tardji, “tapi siapa yang mau mengurus itu kalau foto-foto itu mau dibukukan dan diterbitkan?”

Saya punya kerisauan lain. “Abang juga harus menulis buku tentang bagaimana membaca puisi. Saya yakin tak ada orang yang pantas menulis itu kecuali Abanglah…” kata saya. Ia bilang bahwa sedang mulai menuliskan buku yang saya maksud. “Saya kembangkan dari esai yang ada di buku ‘Isyarat’ itu,” katanya. Ia sepertinya mencemaskan sesuatu.

“Di Indonesia ini tak ada yang serius mengurus puisi,” katanya. Ia lalu bicara dalam tempo cepat, dengan suara khasnya itu: tentang bagaimana seharusnya puisi diajarkan selekas-lekasnya pada anak-anak; Ia bercerita tentang bagaimana bukan hanya penyair yang harus dilahirkan tapi juga melahirkan para pembaca yang kritis; Ia memaparkan bagaimana seharusnya sastra diajarkan, pentingnya memetakan perjalanan sejarah sastra, pencapaiannya dan tokoh-tokohnya; Ia mencela perilaku sastrawan yang menempuh jalan tak wajar untuk dapat nama, padahal tak ada cara lain untuk berhasil dalam sastra kecuali mengandalkan karya. Itu mungkin yang dipersembahkan oleh Abdul Hadi WM dalam sajak yang saya kutip di atas: datang ke laut, menyatu dengan ombak, dan tak bosan membongkar karang!

“Saya tak pernah mengemis pengakuan. Jassin kagum pada sajak saya, Goenawan suka sajak-sajak saya, tapi mereka saya olok-olok juga, kalau mereka tak suka pada saya, biar saja, mereka tak bisa tak suka pada karya saya,” kata Tardji tertawa, mengenang kelakuannya yang suka mencemooh. “Ini mungkin tak bagus untuk silaturahmi atau pertemanan, tak baik meniru kelakuan saya yang seperti itu,” katanya, dan ia tertawa lagi.

“Kau kan mendapat pengakuan sebagai penyair karena sajak-sajak kau,” katanya padaku.

Ia bicara tentang pentingnya lembaga kritik, dan ia meyakinkan bahwa lembaga pemberi legitimasi itu perlu untuk kehidupan sastra yang sehat.

“Banyak yang takut pada kritik. Banyak yang bilang kita tak perlu kritikus. Akibatnya apa? Tanpa lembaga kritikyang berwibawa yang ada hanya chaos, itu yang terjadi sekarang ini,” katanya malam itu.

Di beberapa meja yang dijejer jadi satu baris, kami tinggal berempat. Saya, Sutardji, Hendri dan Pardi. Pengamen yang tadi menyanyikan beberapa lagu sudah pulang. Samson sudah pulang, suaranya serak, dan benar saja besoknya dia disergap sakit. Lawen dan Teja sudah kembali ke hotel. Malam itu, baru saja kami tampil bergantian membaca sajak di Kenduri Seni Melayu (KSM).

Malam. Batam. Mungkin keduanya teramat berkesan di hati Sutardji. Ia ada menulis sajak tentang kedua hal itu, sebuah sajak panjang.

Di malam pembukaan KSM, Sutardji masih saja tampil memikat. Dengan harp blues yang mahir ia kuasai, dan tariannya yang tengil di atas panggung, sajak “Tanah Air Mata” tersampaikan dengan amat menarik. Saya teringat sajak lain yang tak ia bacakan: para penyair, jangan biarkan dirimu berlama-lama di lembahlembah. Engkau, Tardji, ada tinggi, jauh di puncak itu! [ ]

*) Penulis, penyair bermukim di Batam.Telah menerbitkan beberapa buku antologi puisi, antara lain, ORGASMAYA (Yayasan Sagang, 2007);Menapak ke Puncak Sajak (Koekoesan, 2008); TELIMPUH (Koekoesan, 2009), LUKAMATA (Koekoesan, 2010).
E-mail:hasanaspahani@yahoo.com


XL Award 2010


XL Award 2010
Lomba Karya Tulis, Foto, dan publikasi di Facebook dan/atau Twitter
Total hadiah lebih dari Rp 230 juta

Informasi selengkapnya klik www.xl.co.id/xlaward2010
Download formulir, disini

Kategori Peserta:
Kategori Umum

  • Masyarakat umum harus merupakan Warga Negara Indonesia
  • Menyerahkan kartu identitas diri yang masih berlaku
  • Peserta masyarakat umum tidak diperbolehkan melakukan pendaftaran dan mengikuti lomba sebagai peserta wartawan.
  • Panitia berhak mendiskualifikasi keikutsertaan peserta umum dan/atau membatalkan apabila peserta terpilih sebagai pemenang apabila data yang diberikan keliru dan/atau tidak benar dan/atau ternyata peserta umum ternyata berprofesi sebagai jurnalis/penulis/kontributor di media massa dan mengikuti lomba sebagai peserta kategori umum.

Kategori Wartawan

  • Wartawan harus merupakan Warga Negara Indonesia
  • Wartawan yang bekerja pada media cetak/online/kantor berita/sindikasi (jurnalis) dan dapat diikuti pula bagi wartawan lepas (termasuk di antaranya penulis tetap maupun kontributor)
  • Peserta wartawan harus menyertakan kartu identitas dan kartu pers yang masih berlaku atau surat keterangan yang dapat menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah wartawan, baik dari media tempat bekerja atau lembaga profesi wartawan tempatnya bergabung
  • Peserta wartawan tidak diperbolehkan melakukan pendaftaran dan mengikuti lomba sebagai peserta kategori umum

*) Untuk Lomba publikasi di Facebook dan/atau Twitter boleh diikuti oleh peserta Wartawan maupun Umum

Jenis Lomba:

  • Lomba Karya Tulis
  • Lomba Foto
  • Lomba publikasi di Facebook dan/atau Twitter

Periode Lomba:
23 Oktober 2010 – 31 Desember 2010

Tema Umum :
Upaya XL memberikan layanan telekomunikasi terbaik bagi pelanggan dan Indonesia

Lomba Karya Tulis
Tema Pilihan:

  • Regulasi pemerintah bidang telekomunikasi dan konsekuensi bagi industri selular
  • Kovergensi IT dan Telekomunikasi dan keuntungan bagi masyarakat
  • Menyambut lahirnya teknologi 4G di pasar Indonesia
  • Dampak investasi di sektor telekomunikasi selular terhadap pertumbuhan ekonomi daerah
  • Dampak tarif telekomunikasi yang murah terhadap upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia
  • Pengaruh perkembangan telekomunikasi seluler dan perkembangan industri kreatif di Indonesia
  • Industri telekomunikasi seluler di Indonesia pada saat ini dan bisnis model yang tepat
  • Pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi di wilayah terpencil dan daerah perbatasan melalui dana dari operator telekomunikasi
  • Peran operator dalam memajukan pendidikan dan perekonomian di daerah pinggiran kota dan pedalaman

Lomba Foto
Tema Pilihan:

  • Dampak tarif telekomunikasi yang murah terhadap upaya peningkatan kulitas hidup masyarakat Indonesia
  • Edukasi selular kepada pelanggan
  • XL di antara ketatnya persaingan antaroperator
  • Jaringan telekomunikasi menjangkau daerah-daerah pelosok negeri
  • Kepedulian industri selular kepada masyarakat dan pelanggan

Lomba Publikasi di Facebook dan/atau Twitter

  • Oktober : Dampak tarif telekomunikasi yang murah terhadap upaya peningkatan kulitas hidup masyarakat Indonesia
  • November : Peran operator dalam memajukan pendidikan dan perekonomian anak bangsa, di daerah pinggiran kota dan pedalaman
  • Desember : Jaringan telekomunikasi menjangkau daerah-daerah pelosok negeri

Dewan Juri:

  • Juri Lomba Karya Tulis:

Budi Rahardjo & Mas Wigrantoro

  • Juri Lomba Foto:

Eni Nuraini & Oscar Matulloh

  • Juri Lomba publikasi di Facebook dan/atau Twitter:

Wicaksono & Antyo Rentjoko

Hadiah Lomba Karya Tulis dan Foto

  • Juara I untuk tiap kategori peserta dan jenis lomba Rp. 18.000.000,-
  • Juara II untuk tiap kategori peserta dan jenis lomba Rp. 13.000.000,-
  • Juara III untuk tiap kategori peserta dan jenis lomba Rp. 8.000.000,-
  • Juara Harapan tiap kategori peserta dan jenis lomba mendapat Rp. 2.000.000,-

Hadiah Lomba publikasi di Facebook

  • Grand Prize Juara I Rp 10.000.000,-
  • Grand Prize Juara II Rp 5.000.000,-

Hadiah Lomba publikasi di Twitter

  • Grand Prize Juara I Rp 10.000.000,-
  • Grand Prize Juara II Rp 5.000.000,-

Hadiah 2 (dua) mingguan Lomba publikasi di Facebook

  • 5 orang pemenang berhak mendapatkan pulsa XL sebesar Rp 500.000,-

Hadiah 2 (dua) mingguan Lomba publikasi di Twitter

  • 5 orang pemenang berhak mendapatkan pulsa XL sebesar Rp 500.000,-

Tiap pemenang (kecuali pemenang 2 mingguan Lomba publikasi di Facebook dan/atau Twitter) akan mendapatkan juga: Sertifikat + Trophy + Pulsa XL sebesar Rp. 1.200.000,-

Syarat dan Ketentuan Umum
Lomba Karya Tulis, Foto dan publikasi di Facebook dan/atau Twitter

  • Peserta Lomba Karya Tulis dan Foto dan pemenang 2 (dua) mingguan Lomba publikasi di Facebook dan/atau Twitter diwajibkan untuk mengisi Formulir Pendaftaran Peserta yang tersedia di www.xl.co.id/xlaward2010.
  • Lomba ini terbuka untuk semua Warga Negara Indonesia, kecuali karyawan PT XL Axiata Tbk (”XL”), Lucid Communication selaku panitia penyelenggara yang ditunjuk oleh XL, dan perusahaan atau pihak-pihak manapun yang terafiliasi dan/atau berhubungan dengan penyelenggaraan lomba ini termasuk namun tidak terbatas pada keluarga maupun sanak saudara karyawan XL, Lucid Communication dan perusahaan atau pihak-pihak manapun yang terafiliasi dan/atau berhubungan dengan penyelenggaraan lomba ini.
  • Karya yang diikutsertakan dalam lomba ini harus merupakan hasil karya asli dari peserta lomba. Dengan mengikuti lomba ini, peserta lomba dengan ini menyatakan keaslian hasil karyanya dan bertanggung jawab penuh terhadap hasil karyanya tersebut, dan peserta lomba dengan ini membebaskan XL, Lucid Communication, dan perusahaan atau pihak-pihak manapun yang terafiliasi dan/atau berhubungan dengan penyelenggaraan lomba ini dari segala bentuk tuntutan dari pihak-pihak lain tersebut terkait dengan hasil karya peserta yang diikutsertakan di dalam lomba ini.
  • Dengan mengikuti dan mengirimkan karyanya, maka peserta setuju untuk terikat dan tunduk terhadap syarat dan ketentuan lomba ini;
  • Keputusan dewan juri untuk semua jenis lomba bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat. Dewan juri tidak akan menerima dan melakukan korespondensi dalam bentuk apapun dengan peserta.
  • Lomba berlangsung tanpa dipungut biaya apapun kepada setiap peserta, termasuk pajak bagi para pemenang.
  • Peserta bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya pribadi yang harus dikeluarkan oleh peserta terkait keikutsertaannya dalam lomba ini.
  • Seluruh materi yang dikirimkan oleh peserta menjadi hak milik XL dan peserta dengan ini menyatakan persetujuannya bahwa materi dimaksud dapat digunakan oleh XL baik untuk keperluan dokumentasi maupun penggunaan secara komersial.
  • Peserta dianggap telah membaca, memahami dan menyetujui seluruh persyaratan dan ketentuan lomba yang berlaku pada saat mendaftarkan, mengirimkan dan mengumumkan karyanya untuk mengikuti lomba. Panitia memiliki hak untuk menyelesaikan seluruh masalah yang mungkin timbul terkait dengan penyelenggaraan lomba ini dengan cara dan mekanisme yang dianggap sesuai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Peserta dengan ini menyatakan patuh dan tunduk terhadap semua keputusan Panitia lomba.
  • Panitia tidak bertanggung jawab terhadap segala kerusakan yang mungkin timbul selama pengiriman materi lomba kepada panitia.
  • Peserta tetap memiliki hak cipta atas karyanya dan nama peserta akan selalu dicantumkan dalam setiap kegiatan publikasi oleh XL dan/atau Lucid Communication (kecuali ada permintaan tertulis yang menyatakan sebaliknya dari peserta), namun demikian peserta dengan ini menyatakan persetujuannya bahwa panitia XL Award 2010 memiliki hak penuh untuk mempublikasi, memproduksi, memamerkan, menyebarkan maupun menampilkan seluruh karya peserta dan/atau pemenang di website atau media lain untuk kepentingan promosi XL. Dalam penggunaan karya-karya peserta dan/atau pemenang tersebut, panitia memiliki hak untuk melakukan publikasi dimaksud tanpa permohonan maupun izin terlebih dahulu dari peserta dan/atau pemenang dan tanpa kompensasi dalam bentuk apapun kepada pemenang.
  • Bila di kemudian hari peserta melakukan pelanggaran atas persyaratan lomba yang disebutkan oleh panitia termasuk namun tidak terbatas pada memberikan informasi yang berbau SARA, terbukti merupakan karya plagiat/bukan hasil buatan sendiri dan mendiskreditkan pesaing XL, pemberian data yang keliru dan/atau tidak benar, serta melakukan pendaftaran sebagai peserta yang tidak sesuai dengan kategorinya (contoh: wartawan mengikuti lomba sebagai peserta kategori umum), maka peserta akan didiskualifikasi dan tidak akan diikutsertakan dalam penjurian. Panitia berhak menarik kembali status pemenang dan hadiah di mana pemenang dinilai panitia tidak layak untuk dinyatakan sebagai pemenang lomba.
  • Dengan berpartisipasi dalam “XL Award 2010”, peserta menyetujui untuk menjamin XL dan Lucid Communication sehubungan dengan perizinan yang diperlukan atas hasil karya, pemberian bebas royalty atas hasil karya untuk dipublikasikan dan penggunaan lainnya atas hasil karya peserta dalam berbagai bentuk dan cara dan di media-media yang berhubungan dengan lomba dan promosi lainnya oleh XL dan/atau Lucid Communication.
  • Baik peserta, XL maupun Lucid Communication dengan ini sepakat bahwa pemberian izin atas penggunaan hasil karya peserta yang diikutsertakan dalam lomba ini tidak bersifat ekslusif, sehingga peserta dapat tetap menggunakan hasil karyanya tersebut, termasuk untuk digunakan oleh pihak ketiga dengan seizin peserta.
  • Dengan mengikuti lomba, peserta terikat untuk menyetujui dan tunduk pada seluruh peraturan lomba yang telah ditetapkan oleh panitia.
  • Panitia akan menghubungi peserta untuk tujuan pengurusan administrasi atau verifikasi yang berhubungan dengan karya peserta yang diikutsertakan dalam lomba.
  • Pengumuman pemenang akan diumumkan secara resmi melalui media cetak dan website XL. XL tidak bertanggungjawab atas penipuan yang mengatasnamakan XL dan/atau acara ini.

Kriteria Khusus dan Kriteria Umum Lomba

  • Lomba Karya Tulis
  • Kriteria Khusus (berlaku untuk masing-masing kategori wartawan dan umum):
  • Kategori Wartawan
    • Materi tulisan yang diikutsertakan dalam lomba pernah dipublikasikan di media cetak/media online di mana peserta wartawan bekerja secara profesional pada saat mengirimkan hasil karyanya dalam kurun waktu antara 1 Juli 2010 – 31 Desember 2010.
    • Materi tulisan berformat features dan in-depth reporting (reportase mendalam dan komprehensif)
  • Kategori Umum
      • Materi tulisan yang diikutsertakan dalam lomba pernah dipublikasikan di media cetak/media online/blog dalam kurun waktu antara 1 Juli 2010 – 31 Desember 2010.
      • Materi tulisan berformat features, in-depth reporting (reportase mendalam dan komprehensif), atau opini dan bukan berformat laporan ilmiah.

  • Kriteria Umum (berlaku untuk kategori wartawan dan umum)
  • Materi tulisan harus dikirimkan dengan format file PDF atau MS Word yang diprotect sehingga tidak dapat diedit/diubah dengan disertai bukti pemuatan berupa kliping asli bukan fotocopy (untuk media cetak) atau link website/blog melalui email (untuk media online/blog).
  • Materi tulisan harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia, baik tema umum maupun tema pilihan.
  • Materi tulisan belum pernah diikutsertakan di lomba sejenis yang diselenggarakan XL maupun pihak lain.
  • Setiap peserta bisa mengirimkan maksimal 3 (tiga) tulisan.

  • Lomba Foto

Kriteria Karya Foto

    1. Kriteria Khusus (berlaku untuk masing-masing kategori wartawan dan umum):
  • Kategori Wartawan

Materi foto pernah dipublikasikan di media cetak/media online di mana peserta wartawan bekerja secara profesional antara 1 Juli – 31 Desember 2010.

  • Kategori Umum
  • Materi foto pernah dipublikasikan di media cetak/media online/blog antara 1 Juli – 31 Desember 2010.

    1. Kriteria Umum (berlaku untuk kategori wartawan dan umum)
  • Materi foto yang dikirimkan kepada panitia wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • Foto-foto merupakan gambar yang diambil dengan menggunakan kamera digital/manual.
  • Format File: JPEG dan tidak dilakukan olah digital.
  • Ukuran maksimal per image adalah: 500kb (maksimal panjang/lebar 1.024 piksel, resolusi 150 dpi).
  • RGB (standar warna untuk pencetakan foto) akan diaplikasikan sebagai warna standar pada saat penjurian.
  • Foto yang lolos penjurian awal akan diminta mengirimkan foto dengan resolusi tinggi untuk keperluan produksi atau pameran yang berhubungan dengan kegiatan lomba
  • Setiap orang dapat mengirim karya foto maksimal 5 image.
  • Karya foto yang telah didaftarkan tidak akan dikembalikan dalam kondisi apapun.
  • Peserta tidak akan mendapat surat konfirmasi pendaftaran.
  • Image yang masuk/yang telah dikirim akan diterima sebagai peserta lomba bila telah memenuhi persyaratan yang disebutkan diatas.
  • Seluruh data yang dikirimkan melalui internet, termasuk data foto, data personal akan diatur oleh pihak Lucid Communication dengan petunjuk dari XL selaku penyelenggara acara.

2. Karya foto yang dikirimkan harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia, baik tema umum maupun tema pilihan

      • Bukti pemuatan berupa kliping asli bukan fotocopy (untuk media cetak) atau link yang dikirim melalui email (untuk media online/blog)
      • Materi foto belum pernah diikutsertakan di lomba sejenis yang diselenggarakan XL maupun pihak lain.

Pengiriman Hasil Karya Tulis dan Foto

Pengiriman karya tulis dan foto wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Karya tulis dan foto diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 5 Januari 2011.
  • Dalam pengiriman karya tulis dan foto kepada panitia, peserta (baik umum maupun wartawan) wajib:
    • Mengisi Formulir Pendaftaran Peserta yang tersedia di www.xl.co.id/xlaward2010 dan mengirimkan Formulir Pendaftaran Peserta tersebut ke alamat panitia XL Award di bawah ini.
    • Mencantumkan kategori peserta (wartawan atau umum) yang diikuti;
    • Mencantumkan tema khusus yang dipilih;
    • Melampirkan kartu identitas (KTP dan/atau SIM) dan salinan kartu pers atau surat keterangan yang dapat menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah wartawan baik dari media tempat bekerja atau lembaga profesi wartawan tempatnya bergabung (khusus untuk wartawan).

  1. Kategori Wartawan
  • Hasil karya tulis dan foto serta bukti pemuatan (pernah dimuat di surat kabar atau media online (dengan menuliskan alamat URL) dikirimkan ke Panitia XL Award 2010 Lomba Karya Tulis dan Foto sebagai berikut:

Panitia XL Award 2010
LUCID Communication
Graha Tirtadi, Lt 3, Jl Raden Saleh Raya No 20,
Cikini, Jakarta Pusat
Telp (021) 39835829
Email:
XLAward@lucidcomm.com, XLAward@yahoo.com

  • Baik untuk pengiriman hasil karya tulis maupun foto, wajib untuk disertai dengan Formulir Pendaftaran Peserta (menggunakan format yang disediakan XL di www.xl.co.id/xlaward2010.

  1. Kategori Umum
  • Hasil karya tulis dan foto serta bukti pemuatan (pernah dimuat di surat kabar, media online atau blog (dengan menuliskan alamat URL) dikirimkan ke Panitia XL Award 2010 Lomba Karya Tulis dan Foto sebagai berikut:

Panitia XL Award 2010
LUCID Communication
Graha Tirtadi, Lt 3, Jl Raden Saleh Raya No 20, Cikini, Jakarta Pusat
Telp (021) 39835829
Email:
XLAward@lucidcomm.com, XLAward@yahoo.com

  • Baik untuk pengiriman hasil karya tulis maupun foto, wajib untuk disertai dengan Formulir Pendaftaran Peserta (menggunakan format yang disediakan XL via www.xl.co.id/xlaward2010.

Kategori publikasi di Facebook dan/atau Twitter

Ketentuan Umum untuk lomba kategori publikasi di Facebook dan/atau Twitter:

  • Terbuka bagi semua kelompok usia dan profesi, baik jurnalis maupun masyarakat umum.
  • Peserta harus merupakan Warga Negara Indonesia
  • Memiliki account social media di Facebook atau Twitter atau keduanya.

  • Setiap peserta hanya diperbolehkan terdaftar atas satu account di Facebook dan/atau Twitter. Jika terbukti mengikutsertakan lebih dari satu account maka panitia berhak mendiskualifikasi peserta
  • Peserta bebas mengikuti lomba di Facebook dan Twitter, atau salah satunya saja
  • Lomba dimulai sejak 23 Oktober 2010 hingga 31 Desember 2010.
  • Panitia berhak mendiskualifikasi peserta yang mem-posting informasi yang berbau SARA, terbukti merupakan karya plagiat/bukan hasil buatan sendiri dan mendiskreditkan pesaing.

  • Seluruh konten yang dikirim menjadi hak milik XL sebagai dokumentasi maupun kepentingan komersial.
  • Juri akan menentukan pemenang dwi-mingguan dan pada akhir periode aktivitas seluruh peserta akan dinilai untuk mendapatkan hadiah utama Rp 10 juta dari XL.
  • Pemenang dwi-mingguan diperkenankan untuk mengikuti lomba di minggu berikutnya.
  • Pemenang grand prize ditentukan berdasarkan nilai tertinggi selama peserta mengikuti aktifitas baik di Facebook dan/atau Twitter selama tiga bulan, terhitung mulai 23 Oktober 2010 hingga 5 Januari 2011.

  • Peserta disarankan untuk mengikuti terus aktifitas lomba selama periode berlangsung agar mendapatkan nilai akumulasi tertinggi.
  • Penilaian menjadi hak penuh juri dan penyelenggara dan bersifat tertutup.
  • Keputusan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Tidak dilakukan direct message baik melalui Facebook dan Twitter untuk mekanisme dan pengumuman pemenang ini.

Mekanisme Lomba

Facebook

  • Peserta harus sudah menjadi fan/meng-klik like di account XL Award di Facebook: www.facebook.com/xlaward. Dengan menjadi fan/meng-klik like di account XL Award di Facebook, maka peserta menyatakan patuh dan tunduk terhadap seluruh syarat dan ketentuan yang berlaku terkait lomba ini.
  • Mengundang sebanyak mungkin teman untuk meng-klik like di fan page xlaward
  • Peserta mengikuti tema lomba yang sudah ditetapkan setiap bulannya:

Aktivitas yang dilakukan pada:

  • Minggu 1 dan 2:

Menuangkan ide/artikel singkat/komentar yang disesuaikan dengan tema tiap bulannya di wall fan page Facebook xlaward atau melalui notes (maksimal 5 paragraf atau 1500 karakter) dengan memasukkan kata #xlaward atau @xlaward. Peserta juga akan dinilai jika ikut memberi komentar pada postingan peserta lain.

Contoh:
saya mao share nih lewat @xlaward, dengan jaringan yang handal sekarang saya bisa berkomunikasi dengan sepupu yang jauh di Papua,berkat jaringannya yang bagus ga drop drop,kami bisa saling berkirim gambar lucu. Yang terpenting lagi, kini saya bisa berbisnis dengannya meski nun jauh disana. Baju-baju dari Jakarta yang akan dijual di sana bisa saya informasikan dulu melalui MMS.

  • Minggu 3 dan 4 (tanggal 8 – 15 dan tanggal 24 - 30): upload foto atau video anda dan xl ke dalam wall fan page facebook xl award disertai dengan keterangan foto atau video. Peserta juga akan dinilai jika ikut memberi komentar pada upload foto peserta lain. Foto tidak boleh direkayasa dengan olah digital (photoshop), tanpa frame, harus orisinil.

Panitia akan menentukan pemenang dwi-mingguan dan pada akhir periode di bulan Januari 2011, akan dipilih peserta yang paling aktif dan kreatif dengan semua aktifitas yang diminta.

Twitter

  • Peserta harus mem-follow account XL Award di @xlaward. Dengan menjadi menjadi follower account XL Award di Twitter, maka peserta menyatakan patuh dan tunduk terhadap seluruh syarat dan ketentuan yang berlaku terkait lomba ini.
  • Peserta men-tweet informasi sesering mungkin yang sesuai dengan tema lomba pada tiap bulannya. Selain teks, peserta juga diperbolehkan mem-posting photo atau membuat link bit.ly. Photo dan tulisan yang diikutsertakan di dalam kategori ini, tidak dapat digunakan dan tidak akan diikutsertakan di dalam lomba kategori tulisan dan/atau kategori photo.
  • Jika membuat link bit.ly maka panjang maksimal artikel adalah 5 paragraf atau 1500 karakter.
  • Dalam men-tweet peserta wajib memasukkan mention @namatemankamu, @xlaward, atau hastag #xlaward.

Contoh: untuk tema bulan Oktober
1. Senangnya bs berkomunikasi sm @lucy makin seru n fun #xlaward
2. @toni_hulk kpn dong kt mms-an lg pake xlalu yh @xlaward

  • Juri akan menentukan pemenang dwi-mingguan bagi peserta yang men-tweet unik, kreatif, mendapatkan respon dari follower-nya (misal tweet-nya di RT).
  • Pemenang dwi-mingguan tetap diperbolehkan mengikuti lomba di minggu berikutnya guna bersaing mengumpulkan nilai tertinggi selama periode berlangsung untuk memperebutkan grand prize.
  • Pemenang utama pada akhir periode yang mendapatkan uang tunai Rp 10 juta, dinilai berdasarkan kalkulasi pada aktivitas tweet mereka dengan @xlaward dan #xlaward selama periode lomba berlangsung.

  • Bagi nama teman yang beruntung saat di-mention dan memberikan respon pun akan mendapatkan goody bag dari XL.
  • Panitia juga akan memberikan goody bag pada follower di tengah-tengah lomba (misal pada saat follower ke-500,ke-1000,dll).

Pengumuman Pemenang

      • Pemenang akan diumumkan pada acara XL Award 2010 yang berlangsung sekitar Februari 2011.
      • Pengumuman pemenang juga akan diumumkan secara resmi melalui media cetak dan website XL.
      • Keputusan dewan juri atas pemenang bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.


Minggu, 05 Desember 2010

Dialog dan Adegan


Oleh Denny Prabowo

Di dalam menulis fiksi, dialog bukanlah segala-galanya. Pengarang seperti Gabriel Garcia lebih banyak mengandalkan narasi, nyatanya dia bisa menulis fiksi dengan baik. Namun, menulis dialog bisa jadi merupakan keterampilan yang sangat anda butuhkan. Karena kebanyakan adegan besar dan adegan kecil bergantung pada dialog.

Mungkin anda tidak memerlukan dialog ketika adegan yang anda tulis hanya melibatkan seorang tokoh. Namun, apabila adegan itu melibatkan dua atau bahkan beberapa tokoh yang saling berinteraksi, dialog akan membuat adegan dalam cerita anda menjadi hidup dan terkesan wajar.

Terkadang sebuah adegan dipaparkan lewat narasi. Namun hal itu dapat membuat cerita menjadi lambat. Untuk itu, sebuah adegan—apalagi jika melibatkan beberapa tokoh—lebih menarik jika ditulis berselang-seling dengan dialog.


DIALOG

Pada dasarnya, dialog adalah percakapan. Percakapan-percakapan muncul dalam cerita karena tentu saja, di dalam kehidupan nyata percakapan juga muncul. Namun dalam kehidupan nyata, banyak dari kita membuat percakapan-percakapan yang tidak penting. Di dalam menulis fiksi kita harus menghindari menuliskan dialog-dialog yang tidak penting.


1. Fungsi Dialog

Dalam sebuah cerita, dialog haruslah fungsional. Sebuah dialog, setidak-tidaknya harus memenuhi satu dari tiga fungsi penting. Namun, yang terbaik adalah, dialog memenuhi ketiga fungsi penting itu sekaligus.

Dialog Memberikan Informasi

“Helena mencintainya, Ambe...”

“Tak bisa, Ambe sudah berjanji pada Tato’ Denna’ untuk menikahkan kau dengan anak laki-lakinya!”

“Tapi, Ambe...” ragu Helena berucap, ”Helena sedang mengandung benihnya.”

(Tedong Helena karya Denny Prabowo)


Dialog antara tokoh Helena dengan Ambe (ayah), kita mendapatkan informasi tentang perjodohan Helena dangan anak laki-laki Tato’ Denna’. Dialog di atas juga memberikan informasi tentang kehamilan Helena.

Dialog Mengungkapkan Tokoh

“Hati-hati,” kata Frances, saat mereka menyeberangi Eighth Street.

“Kamu bisa celaka dan lehermu bisa patah.”

Michael tertawa dan Frances ikut-ikutan tertawa.

“Lagi pula, dia tidak terlalu cantik,” kata Frances. “Pokoknya, tidak terlalu cantik untuk membuat kamu perlu ambil resiko patah leher hanya untuk melihatnya.”

Michael tertawa. Sekarang dia tertawa lebih keras lagi, tetapi tidak terlalu lepas. “Dia bukan gadis yang jelek-jelek amat. Kulitnya mulus. Kulit gadis desa. Tapi, dari mana kamu tahu aku memerhatikannya?”

Frances memiringkan kepalanya ke samping dan tersenyum kepada suaminya dari balik pinggiran topinya yang agak miring. “Mike, sayang...”

(The Girls in Their Summer Dresses karya Irwin Shaw)

Dialog di atas mampu mengungkapkan beberapa karakter tokoh. Melalui dialog antara Michel dan Frances kita mendapat gambaran fisik tokoh lainnya, yaitu tokoh ‘Dia’, seorang gadis yang memiliki kulit mulus seperti kulit gadis desa. Dialog itu juga mengungkapkan karakter tokoh Michael yang suka melirik wanita lain meski ada istri di sampingnya, juga tokoh Frances yang cemburuan.

Dialog Membangun Konflik

“Kita harus tepat waktu. Tidak boleh terlambat, apalagi terlalu cepat datang. Dogot sama sekali tidak suka orang yang tidak tepat waktu. Harus tepat, setepat-tepatnya.”

“Kita harus bergegas kalau begitu.”

“Siapa bilang begitu? Harus tepat waktu! Sudah kubilang, terlalu cepat juga tidak tepat waktu.”

“Kamu tahu siapa Dogot?”

“Peduli amat.”

“Benar juga. Tapi kalau tak tahu, bagaimana kita bisa tahu itu Dogot kalau nanti ketemu?”

( Ditunggu Dogot karya Sapardi Djoko Damono)


Dialog antara dua tokoh di atas, muncul di awal cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita itu harus tepat waktu, tetapi tidak juga boleh terlalu cepat datang. Mereka harus bertemu Dogot, tetapi mereka sendiri tidak mengetahui siap itu Dogot. Petikan dialog di atas langsung menyuguhkan konflik kepada pembaca. Apalagi penempatannya yang di awal cerita, akan menghadirkan sebuah suspense (perasaan tidak menentu) di diri pembaca. Dengan demikian, pembaca akan terus mengikuti ceritanya untuk mendapatkan jawaban atas ketidak menentuan yang dirasakan oleh mereka.


2. Menulis Dialog yang Tepat

Setelah anda mengetahui fungsi dari dialog di dalam sebuah cerita, maka perlu anda mengetahui cara menulis dialog yang tepat. Masih banyak orang keliru ketika menulis dialog. Setidaknya, ada tiga aturan sederhana dalam penulisan dialog.

a. Setiap kali seorang tokoh di dalam cerita anda berbicara, walau dia hanya mengucapkan, “Oya?”, maka buatlah paragraf baru. Sehingga pembaca tidak kebingungan membedakan siapa yang tengah berbicara.

“Siapa nama perempuan yang tinggal di depan rumahmu?”
“Helvy Tiana Rosa.”
“Oya?”
“Apakah kau mengenalnya?”
“Aku sering mendengar nama itu. Apakah dia seorang penulis?”
“Ya.”

b. Pisahkan dialog dari label identifikasi (kata ‘katanya’ atau lainnya, yang menunjukkan si pembicara) dengan tanda koma, bukan titik. Gunakan tanda tanya atau tanda seru sesuai kebutuhan kalimatnya. Aturan ini berlaku di mana pun label di tempatkan—apakah di awal dialog, di antara dialog, atau di akhir dialog.

Dia bertanya, “Apakah kau melihat adikku?”
“Ya,” kataku, “dia sedang beramain di tepi sungai dengan teman-temannya.”
“Maukah kau menolongku memamanggilnya?” mohonnya.

c. Apabila sebuah kalimat uraian menggantikan label, maka setiap kalimat lengkap haruslah berdiri sendiri.

“Angkat tangan!” Polisi itu menodongkan senjatanya ke kepala salah seorang perampok, kemudia memaksanya merapat ke dinding. “Pakai borgol ini!”

ADEGAN

Adegan adalah tindakan berkesinambungan dari seseorang atau beberapa orang yang ditampilkan pada suatu latar (tempat dan waktu). Untuk membangun adegan yang baik, anda harus mampu menggambarkan latar, menampilkan para tokoh, dan menyajikan perbuatan mereka dengan jelas.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu anda sering menyaksikan adegan-adegan berlangsung di depan mata. Namun tidak semua adegan itu menarik untuk diceritakan. Anda tentu tak akan menolehkan kepala, ketika melintas di depan sepasang anak muda yang tengah berbincang-bincang di bangku peron stasiun kereta. Tapi apabila salah seorang di antara mereka berbicara sambil menghunuskan sebilah belati kepada lawan bicaranya, anda pasti tak akan melewatkan begitu saja adegan itu.

Sebuah adegan menjadi menarik, apabila terdapat sebuah konflik di dalamnya. Namun, di dalam sebuah cerita, anda hanya boleh menampilkan adegan-adegan yang berkaitan dengan plot cerita secara keseluruhan.


Tunjukan, Jangan Katakan!

Bayangkanlah bahwa diri anda adalah sebuah kamera yang merekam sebuah peristiwa. Dan tulisan anda adalah televisi yang menayangkan hasil rekaman tersebut kepada pembaca. Dengan demikian, tulisan anda tidak sekedar menyuguhkan cerita, tetapi juga menampilkan gerak. Begitulah semestinya sebuah peristiwa ditampilkan kepada pembaca. Buatlah cerita anda bergerak. Menunjukkan apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh cerita anda jauh lebih menarik, ketimbang menceritakan kepada pembaca bahwa tokoh anda telah melakukan sesuatu.
Ketimbang anda mengatakan bahwa Siska adalah perempuan genit, lebih baik tunjukkan sikap Siska saat sedang merayu seorang lelaki. Ketimbang anda mengatakan bahwa Iwan adalah murid yang pandai, lebih baik tunjukkan bagaimana cara Iwan mengerjakan soal yang diberikan oleh guru di papan tulis dalam waktu singkat.
Perhatikan contoh di bawah ini:

Sebenarnya, lelaki Swedia itu hanya mencari seseorang untuk menemaninya minum. Seorang bartender memeringatinya ntuk bersikap sopan. Namun orang Swedia itu tidak menghiraukan. Dia memaksa serang penjudi untuk menemaninya minum. Penjudi itu menolak. Orang Swedia itu tidak senang. Dia memaki penjudi itu dengan kasar sambil mencengkeram lehernya. Penjudi itu marah dan membunuh orang Swedia itu dengan pisau besar, di depan para saudagar kaya dan jaksa wilayah yang berada di bar itu.

Apakah paragraf di atas telah menampilakan sebuah adegan? Jawabannya: ya. Namun, pembaca tidak akan bisa menyaksikan aksi dari orang-orang yang terlibat dalam adegan-adegan di atas. Sebab, adegan itu hanya ‘dikatakan’ bukan ‘ditunjukkan’.
Sekarang kita perhatikan contoh di bawah ini:

“Oke,” teriak orang Swedia itu, “kalau begitu, dengar baik-baik. Kau lihat sekelompok lelaki di sana? Mereka pasti mau minum menemaniku, dan kau ingat itu. sekarang lihatlah.”

“Hai!” teriak bartender, “bukan begini caranya!”

“Bukan begini bagaimana?” tanya orang Swedia itu. Da melangkah dengan gagahnya menuju sebuah meja dan sambil lalu menepuk pundak seorang penjudi, “Bagaimana kalau begini?” tanyanya dengan geram. “Kuajak kau menemaniku minum.”

Si penjudi hanya menoleh sekilas dan berkata melalui pundaknya, “Bung, aku tidak kenal kau.”

“Sialan!” jawab orang Swedia itu, “ayolah temani aku minum.”

“Anak muda,” si penjudi mencoba memberi nasihat dengan baik-baik, “angkatlah tanganmu dari pundakku, pergilah, dan urus urusanmu sendiri.” Penjudi itu bertubuh kecil, kurus, dan aneh sekali mendengarnya berkata dengan nada ramah begitu kepada si orang Swedia yang bertubuh tegap. Beberapa lelaki lain meja itu tidak bersuara sedikit pun.

“Apa? Kau tak mau menemaniku minum, orang cebol? Aku akan memaksamu!” orang Swedia itu mencengkeram leher si penjudi dengan kasar, dan menyeretnya dari kursinya. Beberapa lelaki lain segera berdiri. Si bartender berlari ke sudut barnya. Terjadi kegemparan hebat dan tiba-tiba tampak sebilah pisau panjang di tangan si penjudi. Pisau besar itu melesat kencang, dan sesosok ubuh, benteng kebajikan, kearifan, kekuatan, ditikam dengan mudahnya seperti sebuah melon. Orang Swedia itu itu jatuh dengan jeritan keterkejutan yang luar biasa.

Para saudagar terkemuka dan jaksa wilayah seperti serentak terjengkang. Si bartender terkulai di pegangan kursi dan matanya menatap si pembunuh.

“Henri,” kata si pembunuh, sambil membersihkan pisaunya pada handuk yang tergantung di rel meja bar, “kau beri tahu mereka di mana bisa menemukanku. Aku di rumah, menunggu mereka.” Lalu, dia menghilang. Sejenak kemudian, si bartender sudah berada di jalan menembus hujan badai mencari pertolongan dan, yang lebih utama lagi, seorang teman.

Mayat orang Swedia itu, tergeletak sendiri di bar, matanya menatap sebuah tulisan menakutkan yang bertengger di atas mesin kasir: “Ini mencatat jumlah yang anda beli.”

(The Blue Hotel karya Stephen Crane)


Paragraf-paragraf di atas mampu merangsang imajinasi pembaca, untuk menghadirkan gambaran aksi yang terjadi pada adegan di dalam bar tersebut di kepalanya. Pembaca tidak sekedar mendapatkan informasi tentang sebuah adegan seperti pada contoh paragraf sebelumnya, tetapi ‘melihat’ adegan tersebut: Pembaca ‘melihat’ bahasa tubuh tokoh-tokoh saat adegan itu berlangsung; Pembaca juga ‘mendengar’ suara tokoh-tokohnya; Pembaca bahkan mendapat gambaran fisik beberapa tokoh yang terlibat dalam adegan tersebut.

Sebuah adegan mungkin sangat bergantung pada perkara yang diangkatnya. Namun begitu, cara anda menyajikan adegan sangat menentukan apakah perkara yang besar itu menarik untuk disimak atau tidak.

Dari adegan yang terdapat di dalam The Blue Hotel karangan Stephen Crane, kita menyaksikan bagaimana sebuah adegan besar ditampilkan lewar perpaduan antara narasi dengan dialog. Sehingga adegan itu menjadi lebih dramatis.


Jumat, 03 Desember 2010

Pieter Akan Mati Hari Ini


Cerpen Denny Prabowo

dimuat di Kompas, Minggu, 14 Juni 2009 | 03:04 WIB

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia(1), aku tahu, hidup Pieter tak akan lama lagi. Derap langkah kuda serdadu kompeni yang melintasi depan rumahku serupa dengus napas sang maut. Bau kematian. Merebak ke tiap penjuru Jacatraweg.


De Malcontent(2) memang menyimpan bara pada kompeni. Namun, siapa percaya jika ia mampu menghimpun kekuatan untuk membantai seluruh orang Belanda di Batavia? Bukankah Margaretha, istrinya, juga seorang Belanda? Kuasa kompeni telah memilih Pieter dan kawan-kawan sebagai tertuduh utama meski tak satu bukti—kecuali isu yang diembuskan oleh seorang budak kepada istri Reijkert Heere.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Tiga pekan lalu, serdadu kompeni menyerbu kediaman Pieter. Meringkusnya sebagai penjahat yang hendak melakukan makar. Bahkan, usaha Aletta mencegah serdadu membawa ayahnya hanya kesia-siaan. Margaretha mendekap tubuh anaknya ketika Pieter, Kartadriya, Layeek, dan enam belas orang lainnya digiring ke Stadhuis(3). Aku hanya bisa memandang dari balik jendela. Menuliskannya dalam baris-baris soneta. Apa boleh buat, aku hanya seorang pujangga. Apakah segerombolan kata-kata akan mungkin menghadang bedil-bedil kompeni itu?

Sejarah memang harus dituliskan.

Wajah Pieter mengeras demi mendengar keputusan Dewan Heemraden. Bagaimana mungkin, tanah di Pondok Bambu dan Sontar yang dahulu dibeli ayahnya dihapus kepemilikannya. Ia bahkan harus membayar sewa karena telah menggunakan tanah tersebut untuk usaha.

”Begitu besarkah kebencian mereka kepada seorang Indo sepertiku?” kata Pieter memeram bara, ”mamiku memang Siam. Tapi apa salahnya menjadi orang Siam? Bukankah kita tak memilih dari rahim siapa dan di mana kita dilahirkan?”

Margaretha dan Aletta tak tahu harus berkata apa. Mereka hanya bisa bermain-main dengan sendok dan garpu di tangannya. Selera makan mereka telah hilang sejak Pieter menggebrak meja setelah membaca surat keputusan Dewan Heemraden mengenai kepemilikan tanah keluarga Erberveld.

”Bukankah dahulu papi Tuan seorang Vertegenwordige(4) di Het College van Heemraden?” tanya Ateng Kartadriya, meneliti surat keputusan tersebut.

”Benar, Raden!” ujar Pieter, “mereka bahkan tak peduli pada jasa Papi.”

”Hmm... tiga ribu tiga ratus ikat padi?” gumam Ateng Kartadriya, ”mungkinkah ini ada hubungannya dengan Reijkert Heere?”

Kedua alis Pieter saling bertaut ketika keningnya mengerut. Ia seperti sedang mencari alasan paling mungkin bila dugaan Ateng itu benar. Ya... untuk apa? Mengapa Reijkert harus melakukan itu?

Ateng Kartadriya dan Pieter saling berpandangan, seperti menemukan jawaban.

Sejak usaha leerlooierij(5) Erbelveld senior tersohor, nama Jacatraweg menjadi tenggelam. Orang lebih mengenal tempat itu sebagai kampung Peca’ Kulit. Mungkin karena kepiawaian Erberveld senior itu, Pemerintah Belanda mengangkatnya sebagai wakil presiden di Het College van Heemraden.

Sepeninggal Erbelveld senior, Pieter melanjutkan usaha itu. Kedekatannya dengan bangsa pribumi membuat Pieter disegani. Ia bahkan berkarib dengan seorang pribumi bernama Raden Ateng Kartadriya. Mereka bahkan menyebutnya Toean Goesti setelah ia mengaku sebagai orang Selam(6).

Seandainya saja dahulu Pieter mau menerima tawaran Henricus Zwaardecroon, mungkin Reijkert Heere tak perlu menjelma sebagai penulis lakon sebuah sandiwara dan menjadikan Pieter pemeran utamanya.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Siapa pun yang dijebloskan ke ruang hukuman di Stadhuis akan mengakui kesalahannya. Landdrost(7) selalu memiliki cara untuk membuat orang mengakui kesalahannya meski sesungguhnya ia tiada bersalah.

Ruang bawah tanah itu adalah saksi bagi keputusasaan.

Dan sejarah memang harus dituliskan.

Sejak mercon itu meledak di benteng Zeelandia, Gubernur Jenderal Zwaardecroon kian meradang. Hanya tinggal selangkah lagi ia akan menjadi pemilik seluruh tanah di Batavia. Namun, dukun yang diundangnya mengatakan kepadanya tentang langit Batavia yang telah dipenuhi segala macam ilmu hitam. Seorang stafnya meninggal tiba-tiba karena penyebab yang entah apa. Apalagi, tersiar kabar tentang jimat-jimat yang beredar di tengah masyarakat.

”Selamat siang, Tuan!” sapa seseorang. Zwaardecroon bergeming menatap keluar jendela kantornya.

”Apakah kau datang membawa kabar, Tuan Reijkert?” tanya Henricus Zwaardecroon tanpa menoleh.

”Saya ada membawa kabar, Tuan!”

”Kabar baik?”

”Tentu, Tuan!” kata Reikert, ”kami sudah menemukan biang keladi kekacauan selama ini.”

Zwaardecroon langsung memutar tubuhnya, ”Betul yang kaukatakan itu, Reijkert?”

”Benar, Tuan,” ujarnya, ”Tuan tentu mengenal Raden Ateng Kartadriya?”

”Mandor di leerlooierij milik Pieter?”

”Kami menggeledah rumahnya dan menemukan jimat-jimat yang selama ini beredar di masyarakat.”

”Jadi, dia pelakunya?”

Reijkert tersenyum, ”Tuan tahu siapa yang berada di belakangnya?”

”Pieter?”

”Benar, Tuan!”

Zwaardecroon memandang keluar jendela ruang kerjanya, ”Kau tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan, Reijkart?”

Reijkart memberi hormat, melangkah meninggalkan ruang kerja Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon. Suara langkahnya seperti irama kematian.

Sejak suaminya menjadi penghuni ruang hukuman di Stadhuis, Margaretha telah kehabisan air mata. Ia tak lagi bisa menangis. Leerlooierij milik suaminya tak lagi beroperasi. Hari-harinya hanya ditemani sepi. Sudah beberapa kali dia mengunjungi Stadhuis, mencari tahu nasib suaminya. Sia-sia. Gubernur Jenderal tak mengizinkan siapa pun mengunjungi pelaku pemberontakan. Seperti juga aku, Margaretha tahu, hidup suaminya tak akan lama lagi.

Pagi tadi, berkas perkara Pieter dan teman-temannya tidak diserahkan ke Raad van Justitie, tetapi ke Collage van Heemraden. Tanpa seorang pengacara pun mendampingi mereka.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Bukankah sudah kukatan, tak ada yang tidak akan mengaku bersalah setelah masuk ruang hukuman di Stadhuis? Begitulah hukum kompeni. Mereka selalu punya cara untuk membuat orang mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya.

Aku memang tidak berada di ruang hukuman, tapi aku tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap Pieter dan teman-temannya.

Sejarah memang harus dituliskan, bukan?

Tiap jengkal tubuh Raden Kartadriya telah menerima pukulan serta tendangan. Kedua tangannya dirantai. Lehernya dikalungi timbangan besi. Kepalanya tertunduk ke lantai menahan nyeri setiap kali serdadu kompeni menambah pemberat pada timbangan. Namun, ia masih bungkam, tak mau membuka suara.

”Potong habis rambutnya!” perintah Reijkert, ”kita lihat, apakah ia masih sanggup tutup mulut!”

”Baik, Meneer!”

Helai demi helai rambut Raden Kartadriya berjatuhan di lantai hingga tak sehelai pun tersisa di kepalanya.

Reijkert mencengkeram leher Raden Kartadriya, lalu mendongakkannya. Lelaki itu malah tersenyum sinis, sorot matanya menyimpan api. Sebuah hantaman ditengkuknya membuat kesadarannya hilang.

”Masukan dia ke dalam sel!” perintah Reijkert, ”seret yang lainnya!”

Serdadu kompeni menyeret Layeek, seorang budak dari Sumbawa, orang kepercayaan Pieter setelah Raden Kartadriya.

”Kamu orang tak perlu menderita seperti Kartadriya jika mau menceritakan tentang rencana pemberontakan kalian!” bujuk Reijkert.

”Fuih!” Layeek meludahi wajah Reijkert.

”Kurang ajar!” Tangan Reijkert menghantam dagu Layeek. Pemuda itu langsung tumbang, ”Angkat dia!”

Serdadu kompeni merebahkan tubuh Layeek di atas de pijnbank(8). Kedua tangannya dibentangkan, lalu telapaknya disekrup. Layeek menjerit-jerit kesakitan. Darah. Reijkert tertawa menikmati setiap tetes darah yang retas dari tubuh legam Layeek.

”Baik... baik, Tuan... saya akan ceritakan!”

Sejak Pieter dan teman-temannya membuat pengakuan, Collage van Heemraden telah mengetukkan palunya. Konon dan memang hanya konon, Pieter menyimpan semua rencana pemberontakannya di sebuah peti di dalam lemari tua di rumahnya. Pieter mengatakan akan melakukan pemberontakan pada malam tahun baru dengan dukungan pasukan dari Banten, Cirebon, dan Kartasura. Pieter bahkan mengaku telah berkirim surat kepada putra Surapati.

Aku tahu, Pieter akan mati hari ini.

Meski kompeni tak berhasil menemukan surat-surat yang konon disembunyikan dalam peti di lemari tua miliknya, Raad van Indie telah menyetujui hukuman mati dengan penggal kepala kepada Pieter dan delapan belas orang inlander pengikutnya. Mereka akan mengeksekusinya di lapangan sebelah selatan kasteel.

Begitulah, sejarah akan dituliskan, kataku mengakhiri cerita.

Kedai minum itu hening. Tak ada yang tahu apa yang sedang bermain di dalam kepala orang-orang yang mendengar ceritaku itu. Pieter Erbelveld memang dikenal luas di Batavia.

”Kita harus meninggalkan tempat ini, Tuan!” ujar seorang lelaki dengan destar merah melilit kepalanya, ”sebelum kompeni menyadari pelarian Tuan. Raden Pengantin beserta pasukannya telah menanti di bekas tanah milik Tuan di Sontar.”

”Kartadriya....”

”Kita tak mungkin membawanya serta.”

”Apakah kau akan ikut dengan kami, Jan?”

”Pergilah!” jawabku, ”aku akan menyusul kalian. Biar kuselesaikan dulu soneta ini.”

Sepeninggal kedua orang itu, pemilik kedai yang ikut mendengarkan ceritaku menghampiri, ”Tuan, bukankah Meneer yang wajahnya penuh luka itu Pieter Erbeveld?”

”Bukan!” kataku sambil berlalu meninggalkan pemilik kedai itu, ”Pieter akan mati hari ini!”

Pemilik kedai itu hanya tersenyum, memandangi kepergianku.

Depok, 09/11/2008



Catatan:

1. Gudang mesiu di Kota
2. Orang yang Kuciwa, lihat Saidi, Ridwan (hlm 184). 1987. Profil Orang Betawi--Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat, Jakarta: PT Gunara Kata
3. Sekarang Museum Fatahilah
4. Wakil Presiden
5. Penyamakan kulit
6. Orang Islam
7. Semacam jaksa
8 Bangku penyiksa

Baca Ulasannya


 

dennyprabowo Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha